Lewati ke konten utama
Beranda / Hasil pencarian

Hasil pencarian

Jelajahi seluruh publikasi yang tersedia.

10 hasil
Subjek: Dayak kenyah
DaftarKartu
ThesisOpen AccessPDF tersedia

STUDI ETNOBOTANI PEMANFAATAN TUMBUHAN LIARSEBAGAI BAHAN MAKANAN PADA SUKUDAYAK KENYAH LEPU’ MA’UT

2026•Skripsi, Thesis, Disertasi, dan Tugas Akhir

Desa Long Alango merupakan dusun kecil berada di Kecamatan Bahau Hulu, Kabupaten Malinau, Kalimantan Utara. Masyarakat di Desa Long Alango memiliki pengetahuan terkait pemanfaatan tumbuhan liar sebagai bahan makanan untuk memenuhi kebutuhan hidup masyarakat sekitarnya. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui jenis, bagian organ tumbuhan, cara pengolahan, dan upaya konservasi yang dilakukan oleh masyarakat Desa Long Alango. Metode yang digunakan dalam penelitian ini kualitatif deskriptif dengan teknik pendekatan etnobotani melalui wawancara semi-terstruktur dan observasi partisipatif. Hasil penelitian ini menemukan ada 16 jenis spesies berasal dari 15 famili yang dimanfaatkan sebagai bahan makan oleh masyarakat Dayak Kenyah Lepu’ Ma’ut, famili yang paling banyak ditemukan adalah famili Solanaceae dengan jumlah 2 spesies, yaitu Solanumsp. (terong pipit) dan Solanum sp. (terong asam). Sementara itu, famili lainnya masing-masing hanya terdiri dari 1 spesies. Dari ke 16 spesies terdapat 2 spesies yang menggunakan bagian batang, 2 spesies menggunakan bagian pangkal daun, 5 spesies menggunakan bagian daun, sedangkan 6 spesies menggunakan bagian buah, 3 spesies menggunakan bagian bunga, 5 spesies menggunakan bagian tunas, dan 1 spesies menggunakan bagian umbi. Bagian yang paling banyak digunakan adalah bagian buah dan bagian yang paling sedikit digunakan adalah bagian umbi. Tumbuhan liar ditemukan di beberapa tempat, yaitu di hutan, ladang, pekarangan, dan pinggir jalan. Cara pengolahan tumbuhan liar tersebut dilakukan dengan direbus, ditumis, dibakar, dijadikan sambal, difermentasi, serta dikonsumsi langsung sebagai lalapan dan ada juga beberapa bagian tanaman yang direbus kemudian di tumis contohnya seperti bunga papaya dan daun pepaya. Selain itu, masyarakat juga melakukan upaya konservasi melalui pemanfaatan secara bijaksana, menjaga kawasan hutan adat, serta mewariskan pengetahuan lokal kepada generasi berikutnya. Penelitian ini menunjukkan bahwa pemanfaatan tumbuhan liar sebagai bahan makanan merupakan bagian penting dari kearifan lokal masyarakat Dayak Kenyah Lepu’ Ma’ut dan memiliki peran dalam mendukung ketahanan pangan serta pelestarian pengetahuan tradisional masyarakat. Long Alango Village is a small hamlet located in Bahau Hulu Subdistrict, Malinau Regency, North Kalimantan. The community in Long Alango Village possesses knowledge regarding the utilization of wild plants as food to meet their daily needs. This study aimed to identify the types of plants, the plant parts used, processing methods, and conservation efforts undertaken by the community of Long Alango Village. The research employed a descriptive qualitative method using an ethnobotanical approach through semi-structured interviews and participatory observation. This study revealed that there are 16 plant species from 15 families utilized as food by the Dayak Kenyah Lepu' Ma'ut community. The most commonly found family was Solanaceae, comprising 2 species: Solanum sp. (small eggplant) and Solanum sp. (sour eggplant). Meanwhile, the other families each consisted of only 1 species. Of the 16 species, 2 species utilize the stem, 2 species utilize the leaf base, 5 species utilize the leaves, 6 species utilize the fruit, 3 species utilize the flowers, 5 species utilize the shoots, and I species utilizes the tuber. The most commonly used part is the fruit, and the least commonly used part is the tuber. Wild plants were found in several locations, including forests, fields, backyards, and roadsides. These wild plants were prepared by boiling, stir-frying, roasting, making into chili paste, fermenting, and directly consuming them. In addition, the community also engaged in conservation efforts through wise utilization, protecting customary forest areas, and passing down local knowledge to the next generation. This study demonstrates that the utilization of wild plants as food is an essential part of the local wisdom of the Dayak Kenyah Lepu' Ma'ut community and plays a role in supporting food security and the preservation of traditional knowledge.

8 dilihat · 2 unduhanSitasiDetail
ThesisOpen AccessPDF tersedia

PERAN KEARIFAN LOKAL DALAM MENINGKATKAN PARTISIPASI PENDIDIKAN PADA MASYARAKAT ADAT DAYAK KENYAH (STUDI KASUS : DESA LONG AMPUNG)

2026•Skripsi, Thesis, Disertasi, dan Tugas Akhir

ABSTRAK PERAN KEARIFAN LOKAL DALAM MENINGKATKAN PARTISIPASI PENDIDIKAN PADA MASYARAKAT ADAT DAYAK KENYAH (STUDI KASUS: DESA LONG AMPUNG SOPIAH Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui peran kearifan lokal dalam meningkatkan partisipasi pendidikan pada masyarakat adat Dayak Kenyah di Desa Long Ampung. Rumusan masalah dalam penelitian ini adalah: (1) bagaimana keterlibatan masyarakat adat dalam meningkatkan partisipasi pendidikan, dan (2) bagaimana kearifan lokal masyarakat adat Dayak Kenyah berperan dalam bidang pendidikan. Penelitian ini menggunakan metode penelitian yuridis normatif dengan pendekatan perundang-undangan dan pendekatan konseptual untuk menganalisis data dan menjawab rumusan masalah yang ada. Hasil penelitian menunjukkan bahwa kearifan lokal yang dimiliki oleh masyarakat adat Dayak Kenyah menjadi faktor penting dalam mendukung dan meningkatkan kesadaran serta partisipasi aktif masyarakat dalam dunia pendidikan. Nilai-nilai budaya dan tradisi yang dijunjung tinggi mampu menguatkan motivasi masyarakat untuk mengakses dan berkontribusi dalam proses pendidikan. Penelitian ini memberikan gambaran bahwa integrasi kearifan lokal dalam program pendidikan dapat menjadi strategi efektif dalam meningkatkan kualitas dan partisipasi pendidikan di komunitas adat.

9 dilihat · 4 unduhanSitasiDetail
ThesisOpen AccessPDF tersedia

KEDUDUKAN ANAK ANGKAT DALAM HUKUM WARIS ADAT DAYAK KENYAH LEPOQ TUKUNG

2026•Skripsi, Thesis, Disertasi, dan Tugas Akhir

ABSTRAK KEDUDUKAN ANAK ANGKAT DALAM HUKUM WARIS ADAT DAYAK KENYAH LEPOQ TUKUNG LAWAI GARING Tujuan penelitian ini adalah untuk menganalisis kedudukan hukum anak angkat dalam keluarga menurut hukum adat Dayak Kenyah Lepoq Tukung, serta untuk mengetahui apakah anak angkat memiliki kedudukan sebagai ahli waris dalam sistem kewarisan adat Dayak Kenyah Lepoq Tukung. Penelitian ini menggunakan jenis penelitian yuridis normatif dengan pendekatan perundang-undangan dan pendekatan konseptual, serta didukung oleh hasil wawancara dengan tokoh adat Dayak Kenyah Lepoq Tukung untuk memperkuat argumentasi hukum. Data yang digunakan terdiri atas bahan hukum primer, sekunder, dan tersier, yang kemudian dianalisis secara kualitatif dengan menitikberatkan pada asas-asas hukum adat, prinsip keadilan, dan nilai-nilai kekerabatan masyarakat adat. Hasil penelitian menunjukkan bahwa kedudukan anak angkat dalam hukum adat Dayak Kenyah Lepoq Tukung didasarkan pada pengakuan sosial dan ritual adat yang menjadikan anak angkat sebagai bagian penuh dari keluarga angkat. Setelah melalui proses adat secara sah, anak angkat memiliki hak dan kewajiban yang sama dengan anak kandung dalam kehidupan keluarga, termasuk dalam hal pewarisan. Dalam sistem hukum waris adat Dayak Kenyah Lepoq Tukung, anak angkat diakui sebagai ahli waris, dengan bagian yang dapat disesuaikan berdasarkan kesepakatan keluarga dan pertimbangan keadilan menurut adat setempat. Dengan demikian, penelitian ini menegaskan bahwa hukum adat Dayak Kenyah Lepoq Tukung mengandung nilai-nilai kekeluargaan dan keseimbangan yang tinggi, di mana pengangkatan anak tidak hanya memiliki makna sosial, tetapi juga konsekuensi hukum dalam sistem kewarisan adat.

7 dilihat · 0 unduhanSitasiDetail
ThesisOpen AccessPDF tersedia

PENYELESAIAN SENGKETA BATAS LAHAN PERTANIAN DAN PERKEBUNAN DALAM MASYARAKAT DAYAK KENYAH BERBASIS KEARIFAN LOKAL DI PERBATASAN

2026•Skripsi, Thesis, Disertasi, dan Tugas Akhir

Penyelesaian Sengketa Batas Lahan Pertanian Dan Perkebunan Dalam Masyarakat Adat Dayak Kenyah Berbasis Kearifan Lokal Di Kawasan Perbatasan Kalimantan Utara IBAN APUI Penelitian ini bertujuan untuk merumuskan model penyelesaian sengketa batas lahan pertanian dan perkebunan dalam masyarakat adat Dayak Kenyah berbasis kearifan lokal di kawasan perbatasan Kalimantan Utara. Sengketa batas lahan dalam masyarakat adat Dayak Kenyah tidak hanya berkaitan dengan aspek kepemilikan fisik, tetapi juga menyentuh dimensi sosial, budaya, dan spiritual yang melekat pada nilai-nilai adat. Oleh karena itu, penelitian ini berupaya mengidentifikasi karakteristik sengketa batas lahan yang terjadi serta menggambarkan mekanisme penyelesaian sengketa yang dilakukan melalui lembaga adat dan kearifan lokal. Rumusan masalah dalam penelitian ini adalah: (1) bagaimana karakteristik sengketa batas lahan pertanian dan perkebunan yang terjadi dalam masyarakat adat Dayak Kenyah di wilayah perbatasan; dan (2) bagaimana mekanisme penyelesaian sengketa batas lahan pertanian dan perkebunan berbasis kearifan lokal yang diterapkan oleh masyarakat adat Dayak Kenyah. Penelitian ini menggunakan metode penelitian yuridis empiris dengan pendekatan sosiologis dan antropologis. Data diperoleh melalui wawancara mendalam, observasi partisipatif, serta studi dokumentasi terhadap dokumen adat, peraturan perundang-undangan, dan literatur terkait. Data yang terkumpul dianalisis secara kualitatif melalui reduksi data, penyajian data, dan penarikan kesimpulan secara induktif. Hasil penelitian menunjukkan bahwa sengketa batas lahan pertanian dan perkebunan dalam masyarakat adat Dayak Kenyah memiliki karakteristik yang dipengaruhi oleh pola pemanfaatan lahan adat, penetapan batas berdasarkan penanda alam dan tradisi warisan leluhur, serta adanya konflik nilai antara hukum adat dan hukum nasional. Mekanisme penyelesaian sengketa yang dilakukan masyarakat Dayak Kenyah berbasis kearifan lokal dilaksanakan melalui lembaga adat, dengan tahapan mediasi, musyawarah, dan penetapan keputusan adat yang mengedepankan restorasi hubungan sosial, pemulihan keharmonisan, serta pemeliharaan nilai-nilai komunitas. Berdasarkan temuan tersebut, penelitian ini merumuskan model penyelesaian sengketa batas lahan yang mengintegrasikan nilai kearifan lokal, prinsip keadilan restoratif, dan keterkaitan antara hukum adat dan hukum nasional sebagai landasan penyelesaian sengketa yang kontekstual dan berkelanjutan.

7 dilihat · 2 unduhanSitasiDetail
ThesisOpen AccessPDF tersedia

PEMAHAMAN GENERASI MUDA TERHADAP PEMANFAATAN TUMBUHAN OBAT TRADISIONAL SUKU DAYAK KENYAH DESA PUNAN GONG SOLOK KECAMATAN MALINAU SELATAN HILIR

2024•Skripsi, Thesis, Disertasi, dan Tugas Akhir

Suku Dayak Kenyah di Desa Punan Gong Solok Kecamatan Malinau Selatan Hilir mempunyai tradisi yang sampai saat ini masih dipertahankan. Salah satu tradisi yang masih dipertahankan adalah memanfaatkan tumbuhan sebagai pengobatan tradisional. Tujuan penelitian ini adalah untuk mengetahui pemahaman generasi muda mengenai pemanfaatan tumbuhan sebagai obat tradisional Suku Dayak Kenyah di Desa Punan Gong Solok Kecamatan Malinau Selatan Hilir. Metode yang digunakan dalam penelitian ini adalah deskriptif kualitatif. Penyajian data melalui observasi dan wawancara terhadap 24 responden generasi muda Suku Dayak Kenyah di Desa Punan Gong Solok dengan rentang usia (17-35 tahun) yang di dukung dengan dokumentasi. Penelitian ini dilakukan pada bulan Oktober 2023. Subjek penelitian generasi muda Suku Dayak Kenyah di Desa Punan Gong Solok dengan rentang usia (17-35 tahun). Hasil penelitian menunjukan bahwa semakin muda usia semakin kurang pemahaman generasi muda terhadap pemanfaatan tumbuhan obat tradisional Suku Dayak Kenyah.

6 dilihat · 0 unduhanSitasiDetail
ThesisOpen AccessPDF tersedia

Kearifan lokal masyarakat dayak kenyah dalam sistem agribisnis padi ladang di desa punan gong solok

2023•Skripsi, Thesis, Disertasi, dan Tugas Akhir

Kearifan lokal merupakan unsur bagian dari tradisi atau budaya masyarakat dari suatu bangsa, kemudian muncul menjadi beberapa bagian yang di tempatkan pada tatanan fisik bangunan dan kawasan dalam geografi kenusantaraan dalam sebuah bangsa Duuan dari penelitian ini adalah untuk mengetahui kearifan lokal masyarakat dayak kenyah dalam sistem agribisnus padi ladang di Desa Punan Gong Solok Metode analisis data menggunakan analisis deskriptif kualitatif Hasil penelitian ini menunjukan bahwa terdapat beberapa kearifan lokal, petani padi ladang dalaru sistem agribistus yaitu pada (1) Subsistem pengadaan sarang pra sarana masyarakat masih meggunakan alat tradisional dalam budidaya padi ladang (2) Subsistem usaha tani, para petani melaknkan doa dan juga meng kunan atau makan bersama sebelum melakukan, penanaman (3) Subsistem pengolahan basil pertanian, dalam kegiatan ini petani melakukan sengun maiau pada saat panen dan syukuran ketika selesai panen (4) subsistem pemasaran hasil panen padi biasanya akan di perjualkan ke kota, namun ada beberapa petani yang menjualkan padinya ke sesama penduduk di Desa (5) subsistem jasa penunjang/kelembagaan kegiatan budidaya di dukung oleh perangkat Desa dan juga penyuluh di Desa tersebut.

6 dilihat · 0 unduhanSitasiDetail
ThesisOpen AccessPDF tersedia

Penegakan Hukum Adat Dayak Kenyah Terhadap Tindak Pidana Peredaran Minuman beralkohol di Desa Lidung Payau Kecamatan Kayan Selatan Kabupaten Malinau

2022•Skripsi, Thesis, Disertasi, dan Tugas Akhir

Penelitian ini merupakan sebuah penelitian penegakan hukum adat Dayak Kenyah terhadap tindak pidana peredaran minuman beralkohol. Minuman beralkohol merupakan minuman yang mengandung etil alkohol yang diproses dari bahan hasil pertanian yang mengandung karbohidrat dengan cara fermentasi dan destilasi. Tujuan penelitian untuk mengetahui bagaimana penegakan hukum dan apa kendala dalam penegakan hukum adat Dayak Kenyah terhadap tindak pidana peredaran minuman beralkohol oleh Kepala Adat di Desa Lidung Payau Kecamatan Kayan Selatan Kabupaten Malinau. Penelitian ini adalah penelitian hukum empiris dengan metode penelitian yaitu metode deskriptif dan pendekatan dalam penelitian ini adalah pendekatan analisis kualitatif. Selanjutnya pengumpulan bahan hukum mengunakan bahan hukum primer berupa wawancara dengan Kepala adat Dayak Kenyah di Desa Lidung Payau dan didukung oleh bahan hukum sekunder dan bahan hukum tersier. Berdasarkan hasil penelitian dapat dipahami bahwa penegakan hukum adat Dayak Kenyah terhadap tindak pidana peredaran minuman beralkohol dilakukan oleh Kepala Adat bersama dengan Anggota Adat, Tetua Adat, dan tim penangulangan minuman beralkohol di Desa Lidung Payau dari dari tahun 2020 sampai dengan 2022 mendaptakan hasil yang positif. Adapun alur perkara hukum adat terhadap tindak pidana peredaran minuman beralkohol yaitu Alaq Dau Pengebada (Menerima Laporan), Mengin Keluong (Memangil saksi dan Pelaku), Pemong Madong (Sidang adat), Pengebadaq Cen Adet (Putusan Adat). Berdasarkan hal tersebut terdapat beberapa kendala dalam penegakan hukum adat Dayak Kenyah terhadap tindak pidana peredaran minuman beralkohol yaitu keterbatasan jangkauan tim penangulangan minuman beralkohol, barang bukti dan kurangnya sarana dan prasarana yang di miliki adat.

6 dilihat · 1 unduhanSitasiDetail
ThesisOpen AccessPDF tersedia

MAKNA UKIRAN PADA MAKAM SUKU DAYAK KENYAH DI KECAMATAN TANJUNG SELOR KABUPATEN BULUNGAN (KAJIAN SEMIOTIK)

2020•Skripsi, Thesis, Disertasi, dan Tugas Akhir

Tujuan penelitian ini adalah untuk mengetahui dan mendeskripsikan makna ukiran pada makam suku dayak kenyah Di Kecamatan Tanjung Selor Kabupaten Bulungan. Metode pada penelitan ini adalah menggunakan metode deskriptif kualitatif. Data pada penelitian ini berupa makna ukiran pada makam suku dayak kenyah. Sumber data pada penelitian ini adalah masyarakat suku dayak kenyah yang mengetahui makna ukiran pada makam. Teknik pengumpulan data pada penelitian ini adalah observasi, wawancara, teknik catat, teknik rekam. Artinya peneliti terjun langsung ke lapangan. Teknik analisis data dalam penelitian ini yaitu data collection (mengumpulkan data), data reduction (reduksi data), dan data display (penyajian data). Jumlah data yang diperoleh dalam penelitian ini yaitu sebanyak 22 data. Berdasarkan data tersebut terdapat dua klasifikasi data yaitu, klasifikasi data ukiran pada makam bangsawan yang berjumlah 8 data. ukiran pada makam bangsawan tidak bisa digunaka oleh sembarang orang kecuali orang bangsawan yang berketurunan raja. Klasifikasi data ukiran pada makam rakyat biasa yang berjumlah 14 data. Ukiran yang ada pada makam rakyat biasa itu hanya ukiran yang diukir sesuai dengan karakter orang-orang tersebut. Data tersebut kemudian dikaji menggunakan teori segitiga makna Peirce. Sing merupakan sesutu yang berbentuk fisik yang dapat ditangkap oleh panca indera manusia dan merupakan sesuatu yang merujuk hal lain diluar tanda itu sendiri. Object merupakan acuan dari tanda (sign) berupa konteks sosial yang menjadi referensi dari tanda (sign) atau sesutu yang dirujuk tanda. Interpretan (Interpretasi/penggunaan) merupakan konsep pemikiran dari orang yang menggunakan tanda dan menurunkannya pada makna tertentu atau makna yang ada dalam benak seseorang tentang objek yang dirujuk sebuah tanda.

5 dilihat · 0 unduhanSitasiDetail
ThesisOpen AccessPDF tersedia

IDENTIFIKASI TUMBUHAN OBAT SUKU DAYAK KENYAH DI DESA PUNAN GONG SOLOK KABUPATEN MALINAU SEBAGAI PERANGKAT PEMBELAJARAN BIOLOGI SISWA SMA KELAS X BERBASIS KEARIFAN LOKAL

2020•Skripsi, Thesis, Disertasi, dan Tugas Akhir

Medicinal plants used by various tribes in Indonesia have provided information about the potential of Indonesia’s biodiversity. Dayak Kenyah is an example of the tribe. Identification of medicinal plant species and their benefits is an effort to preserve potential medicinal plants. This study aimed to identify the types of medicinal plants used by the Dayak Kenyah tribe in Punan Gong Solok Village, Malinau Regency and to find out the utilization of the plants in the preparation of Biology learning for tenth grade students. This was a survey research with a descriptive qualitative approach. This research found 60 types of medicinal plants used by the Dayak Kenyah tribe in Punan Gong Solok village. Those 60 species belonged to 37 families. Plant families commonly used were Zingiberaceae, Araceae and Aracaceae. The most widely used organ was the leaf. Based on the analysis of the 2013 curriculum, this study results could be included in the lesson topic of Kingdom Plantae. The Basic Competence 3.7 applies the principle of classification to classify plants into the division based on observations of plant morphology and metagenesis and link their role in the survival of life on earth. Basic competence 4.7 presents data on morphology and the role of plants in various aspects of life in the form of written reports.

3 dilihat · 4 unduhanSitasiDetail
ThesisOpen AccessPDF tersedia

MAKNA YANG TERKANDUNG DALAM RUMAH ADAT DAYAK KENYAH DI DESA SETULANG KABUPATEN MALINAU (KAJIAN SEMIOTIKA)

2019•Skripsi, Thesis, Disertasi, dan Tugas Akhir

Penelitian ini bertujuan untuk mendeskripsikan makna apa yang terdapat di dalam rumah adat di Desa Setulang Kabupaten Malinau. Metode yang digunakan dalam penelitian ini adalah metode kualitatif. Sumber data dalam penelitian ini diperoleh dari masyarakat suku Dayak Kenyah. Teknik pengumpulan data yang digunakan dalam penelitian ini adalah teknik observasi, wawancara, dokumentasi dan catat. Teknik analisis data di lakukan dengan mengumpulkan data yang telah dicatat dan yang telah di dokumentasi, kemudian mendeskripsikan makna yang terdapat di dalam rumah adat Dayak kenyah, dan membuat kesimpulan dari data yang di dapat. Jumlah keseluruhan data yang terkumpul pada penelitian ini yaitu sebanyak 36, data penelitian terdiri atas 8 data berupa ukiran, 4 data berupa gambar, 3 data berupa pahatan, 9 data berupa benda, 6 data berupa warna dan 6 data berupa arsitektur. Dari hasil pemaknaan secara semiotik dengan menggunakan teori segitiga makna, maka di peroleh kesimpulan bahwa data yang berada di dalam rumah adat tersebut memiliki makna yang berbeda beda. Long ngoleng,Lenco,talawang,Udo,Perisai,Mandau,Sape dan warna merah memiliki makna dapat memanggil roh nenek moyang yang memiliki kekuatan. Selibit,Folo,Kelunan,Fala Adet dan Kelupi memiliki makna kebersamaan dan kerukunan masyarakat Suku Dayak Kenyah yang tidak ada putus-putusnya. Kelunan,Ka’cet, Nga’noq, Melepeg dan Telingaan Aruu memiliki makna untuk memperkenalkan kebudayaan yang ada di dalam Suku Dayak Kenyah. Terfazho, Sapuk, Saung dan Pakaian adat laki-laki memiliki makna status sosial mayarakat. Belogo, warna kuning, putih, hitam, hijau dan biru memiliki makna religius sebagai tanda terima kasih masyarakat Dayak Kenyah kepada Tuhan yang telah memberikan mereka kehidupan serta alam yang berperan menjadi sumber kehidupan mereka dan arsitektur yang memiliki makna memberikan perlindungan di setiap masyarakat memasuki rumah adat. Kata Kunci: Makna, Rumah Adat, Dayak Kenyah, Semiotika.

5 dilihat · 0 unduhanSitasiDetail