ThesisOpen AccessPDF tersedia
2025•Skripsi, Thesis, Disertasi, dan Tugas Akhir
Udang windu (Penaeus monodon) merupakan komoditas andalan perikanan yang sangat potensial di Kota Tarakan. Namun, keberhasilan budidaya udang ini kerap terkendala oleh rendahnya tingkat kelangsungan hidup pada fase Post Larva 10 (PL-10), terutama akibat proses moulting yang tidak optimal. Penelitian ini bertujuan untuk menguji pengaruh kombinasi ekstrak daun karamunting (Melastoma malabathricum) dan probiotik terhadap pertumbuhan serta kelangsungan hidup benur udang windu. Penelitian menggunakan metode eksperimen dengan rancangan acak lengkap (RAL) terdiri atas tiga perlakuan: kontrol (tanpa perlakuan), ekstrak daun karamunting (50 ppm), dan kombinasi ekstrak daun karamunting (50 ppm) dengan probiotik (5 ppm).Hasil penelitian menunjukkan bahwa pemberian kombinasi ekstrak daun karamunting dan probiotik memberikan pengaruh signifikan terhadap pertumbuhan panjang, berat, laju pertumbuhan spesifik, dan kelangsungan hidup benur udang windu. Perlakuan kombinasi menghasilkan pertumbuhan panjang mencapai 2,4 cm,dan berat 0,111 g tertinggi dibandingkan kontrol maupun ekstrak daun karamunting. Selain itu, tingkat kelangsungan hidup tertinggi mencapai 67,5% pada kombinasi perlakuan dibandingkan dengan kontrol sebesar 48,7%. Pemberian pakan dengan penambahan ekstrak daun karamunting dan probiotik memberikan dampak positif terhadap kelangsungan hidup selain itu juga mampu memberikan pengaruh yang signifikan pada pertumbuhan udang windu dan kelangsungan hidup udang windu,sedangkan probiotik berperan dalam meningkatkan efesiensi pencernaan dan kesehatan post larva.
ThesisOpen AccessPDF tersedia
2023•Skripsi, Thesis, Disertasi, dan Tugas Akhir
Kegiatan budidaya cupang umumnya mengandalkan pakan alamiah, namun terdapat kendala dengan jumlah yang terbatas sehingga pembudidaya memanfaatkan pakan pellet untuk menopang pertumbuhannya. Tujuan penelitian ini untuk mengetahui pengaruh penambahan ekstrak daun karamunting pada pellet terhadap pertumbuhan ikan cupang (Betta sp). Penelitian ini terdiri dari empat perlakuan, pemberian pellet tanpa ekstrak 0 gr/kg (P1), pellet ditambahkan ekstrak 0,025 g (P2), pellet ditambahkan ekstrak 0,050 g (P3), pellet ditambahkan ekstrak 0,075 g (P4), dengan tiga ulangan. Parameter yang diamati meliputi laju pertumbuhan spesifik (SGR), pertumbuhan bobot mutlak, pertumbuhan panjang mutlak, sintasan (SR), dan kualitas air dan data di analisis secara deskriptif. Hasil penelitian menunjukkan pertumbuhan spesifik (SGR) ikan cupang pada perlakuan P1 (2,16), P2 (3,43), P3 (3,07), P4 (4,16) Hasil dari uji sidik ragam (ANOVA) berdasarkan analisis statistik dengan taraf kepercayaan 95% menunjukkan hasil yang berbeda nyata antara yang diberikan ekstrak dengan tanpa pemberian ekstrak berdasarkan rerata dari standar deviasi (P>0,05). Hasil pertumbuhan bobot mutlak ikan cupang pada perlakuan P1 (0,30 gr), P2 (0,57 gr), P3 (0,70gr), P4 (0,90 gr) Bobot ikan yang paling rendah yaitu P1 sedangkan bobot yang paling tinggi adalah P4. Hasil pertumbuhan panjang mutlak ikan cupang pada perlakuan P1 (0,53 cm), P2 0,97 cm), P3 (1,60 cm), P4 (2,13 cm) Pertumbuhan panjang mutlak ikan cupang yang diperkaya dengan ekstrak daun karamunting menunjukan bahwa semakin besar dosis ekstrak yang diberikan maka akan semakin tinggi tingkat pertumbuhannya artinya kebutuhan ikan cupang terhadap ekstrak daun karamunting memberikan nilai yang positif. Hasil kelangsungan hidup (SR) pada P1 (100%), P2 (89%), P3 (100%), P4 (100%). Berdasarkan hasil penelitian dapat disimpulkan bahwa pemberian ekstrak daun karamunting pada pakan pellet terhadap pertunbuhan ikan cupang berpengaruh positif pada pertumbuhan ikan cupang.
ThesisOpen AccessPDF tersedia
2023•Skripsi, Thesis, Disertasi, dan Tugas Akhir
Ekstrak daun karamunting dengan kombinasi pakan alami terbukti mampu mempercepat proses pematangan ovari induk kepiting bakau. Namun penggunaan ekstrak daun karamunting dengan pemberian pakan alami belum pernah diuji coba. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui pengaruh frekuensi pemberian ekstrak daun karamunting dengan kombinasi pakan alami terhadap proses pematangan ovari kepiting bakau (Scylla serrata). Penelitian ini menggunakan rancangan acak lengkap dengan empat perlakuan dan tiga ulangan. Perlakuan yang diberikan yaitu, A (kontrol) B (pemberian ekstrak daun karamunting dan pakan alami temberungun) C (pemberian ekstrak daun karamunting dan pakan alami ikan mujair) D (pemberian ekstrak daun karamunting dan pakan alami udang krosok). Dosis penyuntikan yang diberikan adalah 1 mg/g. Parameter pengamatan terdiri dari morfologi ovari, nilai GSI, nilai HSI, SGR, Survival rate dan kualitas air. Hasil penelitian menunjukan bahwa perlakuan D memberikan hasil terbaik dengan nilai GSI sebesar 11,863% HSI 1,351% SGR 21,06% dan telah mencapai TKG IV. Pemberian ekstrak daun karamunting dan pakan alami memberikan pengaruh yang berbeda nyata terhadap proses pematangan ovari induk kepiting bakau dibandingkan dengan perlakuan kontrol
ThesisOpen AccessPDF tersedia
2023•Skripsi, Thesis, Disertasi, dan Tugas Akhir
Pertumbuhan kepiting bakau melalui proses moulting membutuhkan hormon steroid. Salah satu bahan baku yang memiliki kandungan bioaktif seperti hormon steroid adalah daun karamunting (M. malabathricum L). tujuan penelitian ini adalah untuk mengetahui pengaruh stimulan moulting kepiting bakau (Scylla sp) dengan pemberian kombinasi ekstrak daun karamunting (M. malabathricum L) dan hormon tiroksin. Penelitian ini dilaksanakan menggunakan metode eksperimental, yaitu menggunakan rancangan acak lengkap dengan 4 perlakuan 5 ulangan. Perlakuan A (kontrol), perlakuan B ( ekstrak karamunting 3 µg/g dan tiroksin 50 µg/g), perlakuan C (ekstrak karamunting 5 µg/g dan tiroksin 50 µg/g) dan perlakuan D (ekstrak karamunting 7 µg/g dan tiroksin 50 µg/g). Hasil penelitian menunjukkan bahwa persentase moulting pada perlakuan 7 µg/g dan tiroksin 50 µg/g yaitu 100% sementara perlakuan 3 µg/g dan tiroksin 50 memberikan hasil 80% dan perlakuan terendah didapati pada perlakuan kontrol sebesar 60 %. Hasil dari masa laten moulting didapati waktu moulting tercepat pada perlakuan 7 µg/g dan tiroksin 50 µg/g disusul pada perlakuan 5 µg/g dan tiroksin 50 µg/g selama 15 sampai 24 hari dan perlakuan 3 µg/g dan tiroksin 50 µg/g memberikan waktu selama 16 sampai 31 hari dan paling lama didapati pada perlakuan control sebesar 20 sampai 60 hari . Hasil penelitian ini menunjukkan bahwa pada pemberian ekstrak daun karamunting (M. malabathcricum L) dan hormon tiroksin dapat berperan teerhadap stimulan moulting pada kepiting bakau (Scylla spp).
ThesisOpen AccessPDF tersedia
2022•Skripsi, Thesis, Disertasi, dan Tugas Akhir
Tingginya peningkatan permintaan terhadap induk kepiting bakau menyebabkan semakin tingginya penangkapan kepiting di alam. Salah satu usaha untuk memenuhi permintaan pasar yaitu dengan melakukan kegiatan percepatan pematangan ovari melalui pendekatan hormonal maupun ekstrak yang memiliki sifat reproductive-like hormone. Penelitian ini bertujuan mengetahui efektifitas pemberian pakan yang berbeda dengan kombinasi ekstrak daun karamunting dan ethinylestradiol terhadap percepatan dan pematangan ovari induk kepiting bakau (Scylla spp). Penelitian ini menggunakan rancangan acak lengkap dengan 4 perlakuan dan 3 ulangan. Terdapat 4 pakan alami yang digunakan : A (Ikan mujair), B (Temberungun), C (Kepiting Karaca), dan D (Udang) yang di injeksi ekstrak daun karamunting 0,75 mg/g dan hormon ethinylestradiol 0,1 g/g. Hasil penelitian menunjukan pematangan ovari kepiting bakau dalam kurun waktu 20 hari dengan nilai GSI 6,53%. Sedangkan untuk perlakuan pakan temberungun menunjukan peningkatan nilai GSI terbesar 9,70%. Perlakuan pakan karaca menunjukan peningkatan nilai GSI sebesar 9,21% dan perlakuan pakan udang menunjukan hasil GSI sebesar 9,27%. Berdasarkan kesimpulan penggunaan estrak daun karamunting, hormon ethinylestradiol dan pakan yang berbeda menunjukkan performa reproduksi dengan permberian pakan temberungun lebih efektiv dalam percepatan kematangan gonad kepiting bakau jika dibandingkan dengan kepiting karaca, udang dan ikan mujair.
ThesisOpen AccessPDF tersedia
2022•Skripsi, Thesis, Disertasi, dan Tugas Akhir
Salah satu tumbuhan yang memiliki potensi sebagai sumber hormon adalah karamunting. Tumbuhan karamunting memiliki metabolisme sekunder yang terdiri dari saponin, tanin, triterpenoid, dan flavonoid. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui pemberian frekuensi ekstrak daun karamunting optimum dengan frekuensi penyuntikan yang berbeda terhadap pematangan ovari kepiting bakau (Scylla sp). Pada penelitian ini menggunakan rancangan acak lengkap dengan empat perlakuan dan tiga ulangan. Perlakuan yang diberikan, yaitu (kontrol), P1 (pemberian ekstrak daun karamunting dengan satu kali injeksi), P2 (pemberian ekstrak daun karamunting dengan dua kali injeksi) dan P3 (pemberian ekstrak daun karamunting dengan tiga kali injeksi). Dosis penyuntikan yang diberikan adalah 1 mg/100 g. Parameter pengamatan terdiri dari morfologi ovari, nilai GSI, nilai HIS, survival rate dan kualitas air. Hasil penelitian menunjukkan bahwa Perlakuan P3 memberikan hasil terbaik dengan nilai GSI sebesar 10,9%, HSI 2,3%, dan telah mencapai TKG IV. Pemberian ekstrak daun karamunting (Melastoma malabathricum) dengan frekuensi penyuntikan yang berbeda memberikan pengaruh yang berbeda nyata terhadap proses pematangan ovari induk kepiting bakau dibandingkan dengan perlakukan kontrol.
ThesisOpen AccessPDF tersedia
2022•Skripsi, Thesis, Disertasi, dan Tugas Akhir
Viterna merupakan suplemen pakan ternak yang berperan untuk meningkatkan nafsu makan dan daya tahan tubuh, memacu enzim-enzim pencernaan serta mempercepat pertumbuhan ikan. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui pengaruh pengkayaan tubifex sp. dengan viterna dan ekstrak daun karamunting pada kelangsungan hidup dan pertumbuhan ikan cupang. Metode penelitian ini menggunakan metode rancangan acak lengkap dengan 4 perlakukan dan 3 ulangan. Perlakuan yang diujicobakan adalah pemberian Tubifex sp tanpa viterna dan ekstrak (kontrol), P1= Pemberian Tubifex sp. yang diperkaya viterna sebanyak 10ml + ekstrak dengan konsentrasi 250 ppm, P2= pemberian Tubifex sp yang diperkaya viterna sebanyak 15ml dan ekstrak dengan konsentrasi 250 ppm, dan perlakuan P3 yaitu pemberian Tubifex sp yang diperkaya viterna sebanyak 20ml + ekstrak dengan konsentrasi 250 ppm. Berdasarkan hasil penelitian ini menunjukan bahwa perlakuan pemberian Tubifex sp. yang diperkaya viterna sebanyak 15ml + ekstrak dengan konsentrasi 250 ppm menunjukan hasil yang lebih baik dibandingkan dengan perlakuan lainnya. Uji statistic menunjukkan beda nyata pada pertumbuhan panjang dan berat mutlak serta SGR (Specific Growth Rate) pada perlakuan pengkayaan cacing sutera menggunakan viterna dan ekstrak daun karamunting pada pertumbuhan ikan cupang (Betta splendens) dibandingkan perlakuan kontrol. Data pengukuran kualitas air yaitu suhu 27-280C, nilai pH 6-7 dan nilai amoniak 2,55 mg/l, menunjukkan masih dalam ambang normal. Berdasarkan hasil penelitian maka dapat disimpulkan bahwa penambahan Tubifex sp dan ekstrak karamunting dapat meningkatkan pertumbuhan ikan cupang (Betta splendens).
ThesisOpen AccessPDF tersedia
2022•Skripsi, Thesis, Disertasi, dan Tugas Akhir
Pengkayaan artemia menggunakan ekstrak daun karamunting memberikan respon positif pada pertumbuhan benur udang windu yang dilakukan dalam skala laboratorium. Perlunya pengujian lebih lanjut pada skala tambak tradisional. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui pengaruh bioenrichment Artemia salina dengan ekstrak daun karamunting terhadap laju pertumbuhan benur udang windu (Penaeus monodon) yang dipelihara di tambak tradisional. Penelitian ini diharapkan dapat memberikan informasi kepada pembudidaya mengenai potensi Artemia salina dengan ekstrak karamunting untuk meningkatkan pertumbuhan dengan keunggulan ramah lingkungan sehingga mendukung kegiatan akuakultur berkelanjutan. Rancangan penelitian ini merupakan eksprimental, terdiri dari 2 perlakuan 5 kali ulangan. Perlakuan K0 (Kontrol) Pemberian pakan tanpa perendaman ekstrak Perlakuan P1 (100 ppm) Pemberian pakan dengan perendaman ekstrak selama 8 jam. Pengukuran parameter kelangsungan hidup benur udang windu (Spesific Growth Rate) dan Analisis data. Hasil statistik menunjukkan bahwa Spesific Growth Rate dengan pemberian ekstrak karamunting menunjukkan berbeda nyata (P˂0,05). Spesific Growth Rate pada Kontrol (12,93%), dan Perlakuan (13,39%). Bioenrichment Artemia menggunakan daun karamunting pada Artemia selama 8 jam memberikan pertumbuhan panjang dan berat mutlak sangat signifikan pada post larva udang windu
ThesisOpen AccessPDF tersedia
2022•Skripsi, Thesis, Disertasi, dan Tugas Akhir
Pengkayaan pakan alami menggunakan ekstrak daun karamunting (Melastoma malabathricum L) secara signifikan berpengaruh nyata pada laju pertumbuhan post larva udang windu (Penaeus monodon). Penambahan ekstrak daun karamunting pada pakan buatan belum diujicobakan, maka perlu dilakukan untuk melihat pengaruh ekstrak daun karamunting terhadap laju pertumbuhan udang windu yang dipelihara di tambak tradisional. Penelitian ini yang bertujuan untuk mengevaluasi penambahan ekstrak daun karamunting pada pellet pada laju pertumbuhan udang windu (Penaeus monodon) yang dipelihara di tambak tradisional. Penelitian ini menggunakan rancangan penelitian ekperimental, terdiri dari dua perlakuan dan lima ulangan. Perlakuan yang diberikan adalah pemberian pelet komersil dan pelet komersil yang diperkaya dengan ekstrak. Dosis ekstrak daun karamunting yang diberikan adalah 150 mg/kg pelet. Pemeliharaan udang windu dilakukan selama 90 hari, sampling panjang dan bobot udang diamati per 30 hari. Hasil yang diperoleh menunjukkan pengkayaan pakan pellet dengan penambahan ekstrak daun karamunting berpengaruh pada laju pertumbuhan udang windu dibandingkan dengan perlakuan kontrol. Diperoleh nilai pertumbuhan panjang dan bobot yang lebih tinggi yaitu; 8,05 cm dan 34 g pada perlakuan, sedangkan perlakuan kontrol adalah 6,25 cm dan 18 g. Nilai kelangsungan hidup udang windu, berkisar antara 73-100% untuk perlakuan ekstrak sedangkan untuk kontrol berkisar antara 60-80%. Dapat disimpulkan daun karamunting mampu meningkatkan laju pertumbuhan dan sintasan hidup udang windu. Natural feed enrichment using melastoma leaf extract (Melastoma malabathricum L) significantly affects the growth rate of post-larval tiger prawns (Penaeus monodon). The addition of melastoma leaf extracts to artificial feed has never been tested. It is necessary to see the effect of melastoma leaf extract on the growth rate of tiger prawns reared in traditional ponds. This study aimed to evaluate the addition of melastoma leaf extract to pellets on the growth rate of tiger prawns (Penaeus monodon) reared in conventional ponds. This study used an experimental research design consisting of two treatments and five replications. The treatment given was the administration of commercial pellets and commercial pellets enriched with extracts. The dose of melastoma leaf extract given was 150 mg/kg pellets. The carried out maintenance of tiger prawns was for 90 days. The sampling of the length and weight of the shrimp every 30 days. The results obtained showed that enrichment of pelleted feed with the addition of melastoma leaf extract affected the growth rate of tiger prawns compared to the control treatment. The higher length and weight growth value was 8.05 cm and 34 g in the treatment, while the control treatment was 6.25 cm and 18 g, respectively. The survival value of tiger prawns ranged from 73-100% for the extract treatment, while the control ranged from 60-80%. Can conclude that melastoma leaves can increase tiger prawns' growth rate and survival.
ThesisOpen AccessPDF tersedia
2022•Skripsi, Thesis, Disertasi, dan Tugas Akhir
Presentase jantan pada ikan cupang memiliki tingkat keberhasilan yang rendah. Jumlah benih jantan yang diperoleh setiap pemijahan sangat rendah dan kualitasnya tidak sesuai dengan yang diinginkan. Penelitian ini bertujuan untuk menguji pengaruh ekstrak daun karamunting pada proses pembentukan jenis kelamin jantan (maskulinisasi) pada ikan cupang plakat (Betta sp). Penelitian ini dilakukan secara eksperimental, terdiri dari 4 perlakuan dan 3 ulangan. Perlakuan yang diujicoba adalah sebagai berikut; kontrol (tanpa pemberian ekstrak karamunting), P1, yaitu perendaman dengan konsentrasi ekstrak karamunting 1 mg/ 200 ml, P2, yaitu perendaman dengan konsentrasi ekstrak karamunting 2 mg/ 200 ml, P3 yaitu perendaman dengan konsentrasi ekstrak karamunting 4 mg/ 200 ml. Dilakukan peroses perendaman larva ikan cupang yang berumur 7 hari, menggunakan ekstrak karamunting dengan dosis yang berbeda, selama 24 jam. Hasil Penelitian nemunjukkan persentase ikan cupang jantan tertinggi diperoleh pada perlakuan P1 sebesar 68 %, untuk persentasi kelangsungan hidup tertinggi terdapat pada perlakuan P0 (kontrol) dengan nilai 100%. Berdasarkan hasil penelitian ini dapat disimpulkan bahwa penambahan ektrak daun karamunting (Melastoma malabathrichum) dengan dosis yang berbeda mampu menjadi agen dalam pembalikan jenis kelamin jantan (maskulinisasi) pada ikan cupang (Betta sp).
ThesisOpen AccessPDF tersedia
2021•Skripsi, Thesis, Disertasi, dan Tugas Akhir
Tingginya nilai ekonomis ikan hias cupang (Betta sp), mendorong pembudidaya untuk membudidayakan ikan cupang. Untuk menghasilkan indukan matang gonad dan siap memijah setiap saat, diperlukan solusi dalam meningkatkan kinerja reproduksi ikan cupang. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui potensi ekstrak daun karamunting sebagai agen stimulator maturasi gonad pada performa reproduksi ikan cupang (Betta sp). Penelitian ini menggunakan metode eksperimental dengan desain penelitian rancangan acak lengkap (RAL), terdiri dari empat perlakukan dan tiga ulangan. Pemberian ekstrak daun karamunting yang digunakan dalam penelitian ini adalah Perlakuan A : (Kontrol) Perlakuan B: penyuntikan dosis ekstrak daun karamunting (1 µg/g BB) Perlakuan C: penyuntikan dosis ekstrak daun karamunting (5 µg/g BB) Perlakuan D: penyuntikan dosis ekstrak daun karamunting (10 µg/g BB). Parameter yang diamati meliputi; Tingkat kematangan gonad, kelangsungan hidup ikan (SR), Fekunditas dan kualitas air (suhu pH dan amoniak). Hasil penelitian menunjukan bahwa pemberian ekstrak daun karamunting pada perlakuan D dan B dapat mempercepat pematangan ovari induk ikan cupang (Betta sp). Nilai GSI tertinggi terdapat pada perlakuan 10 µg/g dengan nilai 12,52% dan nilai GSI yang terendah pada perlakuan kontrol dengan nilai 7,31%. Fekunditas tertinggi diperoleh pada perlakuan dengan dosis ekstrak daun karamunting 10 µg/g yaitu 1.628 butir dan fekunditas terendah padaperlakuan kontrol yaitu 1.375 butir. Tingkat kelangsungan hidup ikan cupang 100% disetiap perlakuan. Pemberian ekstrak daun karamunting mampu meningkatkan kinerja reproduksi ikan cupang, meliputi tingkat kematangan gonad, nilai GSI, fekunditas, serta kelangsungan hidup dibandingkan dengan perlakuan kontrol. Due to its high economic value, many pepole are encouraged to cultivate the Siamese fighting fish (Betta sp). To produce broodstock with mature gonad and ready to spawn, a solution is required to improve the reproductive performance of Siamese fighting fish (Betta sp). This research aimed to figture out the potential of karamuntingleaf extract as a gonad-maturation stimulator relatedto the reproductive performance of siamese fighting fish (Betta sp). The research was conduvted using an experimental method with a comletely randomized desugn (CRD) consiting of four treaments with three repetitions. The karamunting leaf extract in this research was administered through traemnt A: (control), Treament B: karamunting leaf extract injection with the dosage of 1 g/g BW, Traement C: karamunting leaf extract injection with dosage of 5 g/g BW, and Treament D: karamunting leaf extract injection with dosage of 10 g/g BW. The observed parameters included; Gonad maturity level, fish survival (SR), fecundity, and water quality (pH temperature and ammonia). The research results show that the administration of karamunting leaf extract in treatments D and b could accelerate the ovary maturation of siamese fighting fish (Betta sp). The highest GSI value (12.52%) was found in the treatment with the dosage of 10 g/g, while the lowes GSI value (7.31%) was found in the control treatment . The highest fecundity (1628 grains) was obtained in the treatment with administration of karamunting leaf extract at the dosage of 10 g/g, while the lowes fecundity (1375 grains) was obtained in the control treatment. The survival rate of siamese fighting fish (Betta sp) was 100% in each treatment. The administration of karamunting leaf extract could improve the reproductive performance of siamese fighting fish (Betta sp), including the gonad maturity, GSI value, fecundity, and survival level when compared to those in the control treatment.
ThesisOpen AccessPDF tersedia
2021•Skripsi, Thesis, Disertasi, dan Tugas Akhir
Ekstrak daun karamunting telah terbukti mampu mempercepat proses pematangan ovari induk kepiting bakau. Namun penggunaan ekstrak daun karamunting dengan frekuensi pemberian lebih dari satu kali belum pernah diujicoba. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui pengaruh frekuensi pemberian ekstrak daun karamunting yang berbeda terhadap proses pematangan ovari kepiting bakau (Scylla serrata). Penelitian ini menggunakan rancangan acak lengkap dengan empat perlakuan dan tiga ulangan. Perlakuan yang diberikan, yaitu A (kontrol), B (pemberian ekstrak daun karamunting dengan satu kali injeksi), C (pemberian ekstrak daun karamunting dengan dua kali injeksi) dan D (pemberian ekstrak daun karamunting dengan tiga kali injeksi). Dosis penyuntikan yang diberikan adalah 0.25 mg/g. Parameter pengamatan terdiri dari morfologi ovari, nilai GSI, nilai HIS, survival rate dan kualitas air. Hasil penelitian menunjukkan bahwa Perlakuan D memberikan hasil terbaik dengan nilai GSI sebesar 11,494%, HSI 3,450%, dan telah mencapai TKG IV. Pemberian ekstrak daun karamunting dengan frekuensi penyuntikan yang berbeda memberikan pengaruh yang berbeda nyata terhadap proses pematangan ovari induk kepiting bakau dibandingkan dengan perlakukan kontrol. Karamunting leaf extract has proven accelerating the process of ovary maturation of mangrove crab broodstocks. However, the use of karamunting leaf extract with the administration frequency of more than once has never been tested before. This research aimed to figure out the effect of different karamunting leaf extract frequency administration on ovarian maturation process of mangrove crab (Scylla serrates). This study used a completely randomized design with four treatments and three repetitions. The treatments included treatment A (control), treatment B (administering karamunting leaf extract with one injection), treatment C (administering karamunting leaf extract with two injections), and treatment D (administering karamunting leaf extract with three injections). The injection dosage given was 0.25 mg/g. The observation parameters consisted of ovarian morphology, GSI value, HIS value, survival rate and water quality. The research results showed that Treatment D gave the best results with the values of GSI and HSI respectively at I I .494% and 3.450% reaching TKG IV. The administration of karamunting leaf extract with different injection frequencies significantly affected the ovarian maturation process of mangrove crab broodstocks when compared to those in the control treatment.