Lewati ke konten utama
Beranda / Hasil pencarian

Hasil pencarian

Jelajahi seluruh publikasi yang tersedia.

8 hasil
Subjek: Tambak Tradisiona
DaftarKartu
ThesisOpen AccessPDF tersedia

ANALISIS PARAMETER FISIKA KIMIA DAN PLANKTON PADA PERAIRAN TAMBAK BUDIDAYA UDANG WINDU (Panaeus monodon) DI KABUPATEN BULUNGAN KALIMANTAN UTARA

2025•Skripsi, Thesis, Disertasi, dan Tugas Akhir

Kabupaten Bulungan dikenal sebagai salah satu daerah utama penghasil udang windu di Indonesia, dengan luas lahan tambak yang paling besar di Provinsi Kalimantan Utara. Faktor pendukung utama yang menentukan keberhasilan budidaya udang windu (Penaeus monodon) pada sistem tambak tradisional yakni kualitas air dan keberadaan plankton. Plankton memiliki peran penting sebagai produsen primer dan indikator kesuburan perairan, sehingga berpengaruh terhadap keseimbangan ekosistem tambak. Penelitian ini bertujuan untuk menganalisis parameter fisika-kimia air dan struktur komunitas plankton pada tambak udang windu di Kabupaten Bulungan, Kalimantan Utara. Penelitian menggunakan metode survei dengan pengambilan sampel air dan plankton di lima lokasi tambak, yaitu Pulau Kepiting, Pulau Tengkolang, Pulau Berasan, Pulau Tanjung Karis, dan Desa Salimbatu. Parameter kualitas air yang diukur meliputi suhu, salinitas, pH, oksigen terlarut (DO), nitrat, fosfat, nitrit, dan amoniak. Data dibandingkan dengan baku mutu air tambak berdasarkan Permen KP No. 75 Tahun 2016. Hasil penelitian menunjukkan bahwa sebagian besar parameter kualitas air berada dalam kisaran baku mutu, meskipun suhu, amoniak (0,31–0,54 mg/L), dan nitrit (0,02–0,034 mg/L) sedikit melebihi ambang batas. Struktur komunitas plankton menunjukan kelimpahan sebesar 2.482 sel+ind/sel jumlah ini berada pada kategori rendah. Nilai indeks keanekaragaman (H′) sedang serta indeks keseragaman (E) yang relatif tinggi dan terdapat jenis plankton yang mendominasi yaitu Oscillatoria (fitoplankton) dan Cyclops (zooplankton). Hal ini menunjukkan kondisi perairan tambak yang masih tergolong stabil dan produktif.

7 dilihat · 0 unduhanSitasiDetail
ThesisOpen AccessPDF tersedia

ANALISIS USAHA TAMBAK TRADISIONAL DI KALIMANTAN UTARA (STUDI KASUS PETAMBAK DI KOTA TARAKAN)

2025•Skripsi, Thesis, Disertasi, dan Tugas Akhir

Usaha tambak tradisional merupakan bentuk budidaya perikanan yang masih mengandalkan cara konvensional, seperti penggunaan teknologi minim, sistem pengelolaan sederhana, dan ketergantungan pada kondisi alam. Penelitian ini bertujuan menganalisis produktivitas dan kelayakan ekonomi usaha tambak tradisional di Kalimantan Utara, dengan studi kasus pada petambak di Kota Tarakan. Penelitian menggunakan pendekatan deskriptif kuantitatif melalui data primer dari 11 petambak dan data sekunder berupa data harga pembelian dari tiga pos pembelian udang. Hasil menunjukkan bahwa rata-rata produksi udang windu per siklus sebesar 289,09 kg dengan penerimaan rata-rata Rp36.018.182. Namun, sebagian besar petambak belum mencapai titik impas (Break Even Point/BEP) dengan nilai tertinggi mencapai Rp66.395.889 dan terendah Rp 13.425.926, ditunjukkan oleh persentase nilai ROI (Return on Investment) berkisar antara 66% hingga 98% dan rasio Benefit-Cost (B/C), hanya dua dari sebelas responden yang menunjukkan nilai B/C 1, yang berarti mengalami (kerugian), enam responden berada pada nilai B/C = 1 (impas), dan tiga responden lainnya berada di atas angka 1 (menguntungkan). Menunjukkan bahwa usaha tambak tradisional secara umum belum sepenuhnya layak secara finansial karena masih belum mampu menutupi biaya produksi secara efisien. Meskipun demikian, terdapat peluang pengembangan usaha melalui efisiensi penggunaan input, pengelolaan budidaya yang lebih baik, bibit unggul, serta dukungan pemerintah berupa pelatihan, modal, dan penguatan pemasaran. Penelitian ini diharapkan menjadi rujukan dalam meningkatkan kesejahteraan petambak dan keberlanjutan usaha tambak tradisional.

11 dilihat · 2 unduhanSitasiDetail
ThesisOpen AccessPDF tersedia

STRUKTUR KOMUNITAS PLANKTON PADA PERAIRAN TAMBAK TRADISIONAL BUDIDAYA UDANG WINDU (Penaeus monodon) KOTA TARAKAN

2022•Skripsi, Thesis, Disertasi, dan Tugas Akhir

STRUKTUR KOMUNITAS PLANKTON PADA PERAIRAN TAMBAK TRADISIONAL BUDIDAYA UDANG WINDU (Penaeus monodon) KOTA TARAKAN Abstrak Salah satu unsur penting dalam pengembangan budidaya tambak adalah plankton yang terdiri atas fitoplankton dan zooplankton yang berfungsi sebagai pakan alami untuk pertumbuhan. Tujuan penelitian ini adalah mengetahui struktur komunitas plankton pada perairan tambak tradisional budidaya udang windu (Penaeus monodon) di Kelurahan Karang Harapan Kota Tarakan. Penelitian ini telah dilaksanakan pada bulan Desember 2021 hingga Februari 2022. Metode penelitian yang digunakan yaitu metode deskriptif kuantitatif. Penentuan lokasi dilakukan menggunakan teknik purposive sampling dengan memilih 3 titik, titik 1 bagian inlet titik 2 sebelah barat sudut tambak dan titik 3 sebelah timur sudut tambak dengan pengambilan sampel sebanyak 8 kali. Hasil dari penelitian didapatkan 16 jenis fitoplankton yang terdiri 6 kelas, yaitu kelas Bacillariophyceae, Mediophyceae, Zygnemophyceae, Chlorophyceae, Cyanophyceae dan Coscinodiscophyceae jenis paling banyak ditemukan pada sampling pertama sampai sampling kedelapan adalah kelas Bacillariophyceae dan kelas Zygnemophyceae, untuk jenis zooplankton didapatkan 6 jenis yang terdiri 4 kelas, yaitu kelas Maxillopoda, Crustaceae, Phytomastigophorea dan Heksanauplia, jenis yang paling banyak didapatkan adalah kelas Maxillopoda. Kelimpahan fitoplankton 3.500-15.167 sel/L, zooplankton berkisar 0.00-1000 ind/L. Indeks keanekaragaman fitoplankton berkisar 0.699-1.562, dan zooplankton 0.00-0.733. Indeks keseragaman fitoplankton berkisar 0.131-0.564, sedangkan zooplankton 0.00-0.409. Indeks dominansi fitoplankton berkisar 0.261-0.659, dan zooplankton 0.00-0.371. Berdasarkan nilai yang didapatkan dapat disimpulkan bahwa untuk nilai kelimpahan fitoplankton masuk dalam kriteria perairan mesotrofik dan eutrofik (sedang sampai tinggi) zooplankton masuk dalam kriteria perairan oligotrofik dan mesotrofik (kesuburan perairan rendah sampai sedang). Indeks keanekaragaman fitoplankton (kestabilan komunitas rendah sampai sedang), jenis zooplankton (kestabilan komunitas rendah). Indeks keseragaman fitoplankton (rendah sampai sedang), jenis zooplankton (rendah). Indeks dominansi fitoplankton (rendah sampai sedang), dominansi zooplankton (rendah). Parameter pendukung pada tambak tradisional budidaya udang windu yang terletak di Kelurahan Karang Harapan Kota Tarakan masih baik untuk kehidupan organisme perairan. Kata Kunci: Plankton, Tambak Tradisional, Kualitas air, Kota Tarakan.

6 dilihat · 3 unduhanSitasiDetail
ThesisOpen AccessPDF tersedia

STUDI POPULASI JENIS KELAMIN KEPITING BAKAU (Scylla spp.) PADA TAMBAK TRADISIONAL DI PULAU TARAKAN

2021•Skripsi, Thesis, Disertasi, dan Tugas Akhir

Kepiting bakau merupakan salah satu komoditas perikanan yang memiliki nilai ekonomi yang tinggi yang berada didaerah mangrove dan tambak tradisional. Penurunan kuantitas serta kualitas dari populasi kepiting bakau dikarenakan permintan pasar yang sangat tinggi dan penangkapan yang melampaui batas. Tujuan dari penelitian yakni untuk mengetahui populasi jenis kelamin jantan dan betina kepiting bakau (Scylla spp.) di tambak tradisional yang ada di Pulau Tarakan. Metode penelitian yang digunakan adalah deskriptif eksploratif yang dilakukan pada tiga lokasi tambak tradisional yang berada pada kelurahan Juata laut, kelurahan Karang Anyar Pantai, dan kelurahan Mamburungan. Hasil penelitian menunjukkan bahwa nisbah kelamin kepiting bakau pada tambak tradisional adalah 1,23, dimana kepiting jantan lebih dominan daripada betina. Tingkat kematangan ovarium yang dominan adalah TKO TKO II sekitar 39,28%, kemudian TKO III sekitar 33,93%, dan TKO I sekitar 26,79%. Jenis kepiting bakau di tambak tradisional di Kota Tarakan ditemukan (dua) jenis yaitu (Scylla Serata) dan (Scylla Tranquebarica). Kondisi parameter kualitas air selama penelitian antara lain; suhu 27-29 0C, salinitas 15-20ppt, pH 7 – 8, dan DO 5-7,4 ppm.

6 dilihat · 0 unduhanSitasiDetail
ThesisOpen AccessPDF tersedia

Perbedaan lama waktu moulting kepiting bakau (scylla serrata) dengan metode mutilasi dan penambahan formula oil crab di tambak tradisional kota tarakan kalimantan utara

2021•Skripsi, Thesis, Disertasi, dan Tugas Akhir

Salah satu factor yang berperan dalam proses moulting kepiting bakau terdiri dari faktor eksternal dan faktor internal. Formula Oil Crab dan metode mutilasi dapat merangsang tubuh kepiting bakau melakukan pergantian kulit atau biasa disebut dengan Moulting. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui perbedaan lama waktu moulting kepiting bakau dengan menggunakan metode mutilasi dan penambahan formula Oil Crab. Metode penelitian dengan menggunakan Rancangan acak lengkap (RAL) 3 perlakuan 5 ulangan. Perlakuan 1 (Kontrol), Perlakuan 2 (penambahan formula Oil Crab) 0,1 mg/ekor, Perlakuan 3 (mutilasi) memotong seluruh kaki jalan kepiting bakau. Berdasarkan hasil penelitian tersebut kepiting bakau dapat Moulting seluruhnya pada perlakuan mutilasi di hari ke 19-26 dengan pertumbuhan berat badan mutlak mencapai rata- rata 24,40 gram. Sedangkan dengan metode penambahan formula Oil Crab dengan dosis 0,1 mg/ekor tidak memadai untuk kepiting bakau melakukan Moulting. pada akhir penelitian kepiting bakau dengan penambahan formula Oil Crab mencapai pertumbuhan berat badan mutlak bertambah mencapai rata-rata berat 19,60 gram. Data kualitas air selama penelitian menunjukkan suhu berkisar 27-32 oC, DO 6,4 - 7,8 mg/l, salinitas15-18 ppt dan pH 7.

16 dilihat · 0 unduhanSitasiDetail
ThesisOpen AccessPDF tersedia

KONDISI ZOOPLANKTON DI PERAIRAN TAMBAK TRADISIONAL KELURAHAN KARANG HARAPAN KOTA TARAKAN

2020•Skripsi, Thesis, Disertasi, dan Tugas Akhir

Peranan zooplankton sebagai mata rantai makanan antara produsen primer dengan karnivora besar dan kecil dapat mempengaruhi kompleksitas rantai makanan dalam ekosistem perairan. Tujuan penelitian untuk mengetahui kelimpahan, keanekaragaman, dan dominansi zooplankton pada perairan tambak tradisional Kelurahan Karang Harapan Kota Tarakan. Penelitian dilaksanakan pada bulan Oktober 2019 sampai dengan Januari 2020. Penelitian menggunaan metode deskriptif kuantitatif dengan penentuan lokasi menggunakan teknik purpossive sampling. Hasil penelitian ditemukan berjumlah 5 spesies yaitu Brancionus sp, Oithona sp, Nauplius sp, Zoea Kepiting dan Larva Glaycera sp, dengan komposisi zooplankton yang terdiri dari 3 kelas di antaranya Crustacea, Rotifera dan Polychaeta. Kelimpahan zooplankton yaitu berkisar antara 3,80–13,43 ind/L, kelimpahan zooplankton pada pagi hari berkisar antara 5,48-13,43 ind/L, sedangkan kelimpahan pada siang hari berkisar antara 3,80-6,99 ind/L, hal ini menunjukkan bahwa kelimpahan zooplankton tergolong rendah (oligotrofik). Keanekaragaman berkisar antara 0,72-0,86, keanekaragaman pada pagi hari berkisar antara 0,79-0,86 sedangkan keanekaragaman pada siang hari berkisar antara 0,72-0,83, Keanekaragaman termasuk dalam komunitas rendah, dan indeks dominansi yang didapatkan berkisar antara 0,43-0,52 indeks dominansi pada pagi hari berkisar antara 0,43-0,52 sedangkan pada siang hari berkisar antara 0,42-0,51 kondisi komunitas tersebut terdapat jenis yang mendominasi yaitu kelas crustacea jenis Nauplius sp.

9 dilihat · 0 unduhanSitasiDetail
ThesisOpen AccessPDF tersedia

EFEKTIVITAS PENAMBAHAN HORMON TIROKSIN TERHADAP PEMATANGAN OVARI KEPITING BAKAU (Scylla serrata) DI TAMBAK TRADISIONAL

2020•Skripsi, Thesis, Disertasi, dan Tugas Akhir

Hormon tiroksin berperan penting dalam proses pematangan ovari pada kepiting bakau dan sudah diujikan pada media pemeliharaan yang terkontrol namun belum diujikan langsung di dalam tambak tradisional. Tujuan penelitian ini adalah untuk menguji efektivitas penambahan hormon tiroksin dengan dosis yang berbeda dalam mempercepat proses pematangan ovari pada induk betina kepiting bakau di tambak tradisional. Dosis tiroksin yang digunakan pada induk kepiting bakau terdiri dari tiga perlakuan yaitu: A, 0 µg/gram bobot (kontrol); B, dosis 0,1 µg/gram bobot; dan C, 0,2 µg/gram bobot. Hasil penelitian menunjukkan perlakuan hormon tiroksin berbeda nyata dengan kontrol terhadap pematangan ovari induk kepiting bakau. Penambahan tiroksin pada dosis 0,1 µg/gram, sebagai stimulator maturasi kepiting bakau memberikan perkembangan ovari yang terbaik.

7 dilihat · 0 unduhanSitasiDetail
ThesisOpen AccessPDF tersedia

UJI PAKAN NON EKONOMIS PADA INDUK BETINA KEPITING BAKAU (Scylla serrata) TERHADAP PERKEMBANGAN KEMATANGAN OVARI di TAMBAK TRADISIONAL KALIMANTAN UTARA

2020•Skripsi, Thesis, Disertasi, dan Tugas Akhir

Tambak tradisional yang ada di Kalimantan utara umumnya merupakan wadah budidaya udang dan ikan yang umumnya berasal dari pembukaan lahan mangrove. Selain udang dan ikan, Tambak tradisional tersebut terdapat beberapa jenis biota yang dianggap sebagai hama dan berlimpah, yang memiliki nilai non ekonomis berupa udang-udangan, keong temberungun, dan ikan mujair. Dimana biota ini tidak termanfaatkan bagi petani tambak. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui efisiensi jenis pakan yang terbaik terhadap perkembangan ovari kepiting bakau yang dibudidayakan di tambak tradisional. Penelitian ini menggunakan metode rancangan acak lengkap (RAL) dengan 3 perlakuan dan 3 ulangan yaitu perlakuan A (pemberian ikan mujair ), B (pemberian keong temberungun), dan C (pemberian udang-udangan). Hasil penelitian menunjukkan bahwa pemberian pakan berupa ikan mujair, keong temberungun dan udang-udangan. Dimana pakan udang-udangan merupakan pakan yang terbaik yang mampu menghasilkan perkembangan ovari kepiting bakau lebih cepat yang dibudidaya di tambak tradisional.

5 dilihat · 2 unduhanSitasiDetail