ThesisOpen AccessPDF tersedia
2025•Skripsi, Thesis, Disertasi, dan Tugas Akhir
Perkembangan teknologi digital telah mengubah secara signifikan sistem transaksi dalam sektor perbankan, namun juga membawa risiko terhadap keamanan data pribadi nasabah. Penelitian ini bertujuan untuk mengkaji pengaturan hukum serta pertanggungjawaban bank dalam melindungi data pribadi nasabah pada transaksi perbankan digital. Metode penelitian yang digunakan adalah yuridis normatif dengan pendekatan peraturan perundang-undangan dan studi kasus, termasuk insiden kebocoran data di Bank Syariah Indonesia. Hasil penelitian menunjukkan bahwa meskipun Indonesia telah memiliki berbagai regulasi seperti Undang- Undang Nomor 27 Tahun 2022 tentang Perlindungan Data Pribadi, serta sejumlah peraturan teknis dari OJK dan Kominfo, implementasi perlindungan data masih belum optimal. Ditemukan kelemahan pada aspek substansi hukum, struktur pengawasan, dan budaya hukum masyarakat yang cenderung permisif. Selain itu, belum terbentuknya lembaga otoritatif pelindung data serta minimnya harmonisasi regulasi menyebabkan ketidakpastian hukum. Kesimpulan dari penelitian ini menegaskan perlunya penguatan regulasi secara terintegrasi, pembentukan lembaga pengawas independen, serta peningkatan literasi hukum dan digital kepada masyarakat. Saran yang diajukan adalah perlunya sinergi antar-lembaga dan penerapan standar keamanan digital yang lebih ketat oleh perbankan guna memberikan perlindungan hukum yang efektif terhadap data pribadi nasabah.
ThesisOpen AccessPDF tersedia
2025•Skripsi, Thesis, Disertasi, dan Tugas Akhir
Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui pengaruh penyaluran dan outstanding pinjaman P2P, dana pihak ketiga, serta pertumbuhan ekonomi terhadap pertumbuhan kredit perbankan di Kalimantan, yang mencakup kredit investasi, kredit modal kerja, kredit konsumsi, dan total kredit perbankan. Pendekatan yang digunakan dalam penelitian ini bersifat kuantitatif dengan menggunakan data sekunder yang diperoleh dari publikasi Bank Indonesia (BI), Otoritas Jasa Keuangan (OJK), dan Badan Pusat Statistik (BPS) untuk periode kuartal III tahun 2023 hingga kuartal III tahun 2024. Teknik analisis yang digunakan adalah regresi data panel dengan bantuan perangkat lunak Stata 17. Hasil penelitian menunjukkan bahwa secara parsial, outstanding pinjaman P2P dan dana pihak ketiga memiliki pengaruh signifikan terhadap pertumbuhan kredit investasi. Outstanding pinjaman P2P juga berpengaruh signifikan terhadap pertumbuhan kredit modal kerja, sementara penyaluran pinjaman P2P berpengaruh signifikan terhadap pertumbuhan kredit konsumsi. Baik penyaluran maupun outstanding pinjaman P2P secara signifikan memengaruhi total kredit perbankan. Secara simultan, seluruh variabel independen menunjukkan pengaruh signifikan terhadap kredit investasi, konsumsi, dan total kredit, tetapi tidak signifikan terhadap kredit modal kerja.
ThesisOpen AccessPDF tersedia
2025•Skripsi, Thesis, Disertasi, dan Tugas Akhir
Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui dan menganalisis efektivitas dan produktivitas pembiayaan perbankan berupa kredit perbankan terhadap sektor ekonomi di Provinsi Kalimantan Timur. Penelitian ini menggunakan pendekatan kuantitatif dengan data sekunder hasil publikasi Bank Indonesia (BI) dan Badan Pusat Statistik (BPS) Provinsi Kalimantan Timur. Pada penelitian ini menggunakan data time series dari tahun 2019-2023. Dalam penelitian ini menggunakan alat analisis Incremental Capital Output Rasio (ICOR), Produktivitas, Pemetaan Tipologi klassen dan Perencanaan Kebutuhan Modal. Hasil penelitian ini menunjukkan bahwa sektor yang paling efektif adalah sektor administrasi pemerintah, pertahanan dan jaminan sosial wajib dengan nilai rata-rata sebesar 0,01 dan sektor yang paling tidak efektif adalah sektor pengadaan listrik dan gas dengan nilai rata-rata sebesar 38,76 dan sektor jasa lainnya tang memiliki nilai -26,15. Kemudian berdasarkan hasil analisis produktivitas, sektor yang memiliki nilai produktivitas yang tinggi adalah sektor administrasi pemerintahan, pertahanan dan jaminan sosial wajib dengan nilai rata-rata produktivitas sebesar Rp 7.143,53 dan sektor dengan nilai produktivitas yang rendah adalah sektor jasa lainnya dengan nilai rata-rata produktivitas sebesar Rp. 0,25. Pada hasil analisi Tipologi Kalssen, pemetaan efektivitas dan produktivitas sektor yang terklasifikasi sebagai sektor produktif dan efektif selama 5 tahun terakhir adalah sektor administrasi pemerintaha, pertahanan dan jaminan sosial wajib; sektor jasa keuangan dan asuransi; informasi dan komunikasi; jasa pendidikan; serta pertambangan dan penggalian sedangkan sektor yang tidak efektif dan tidak produktif adalah sektor real estate; sektor jasa perusahaan; sektor pengadaan listrik dan gas; serta sektor jasa lainnya. Berdasarkan hasil analisis proyeksi kebutuhan modal pada skenario I dengan target pertumbuhan sebesar 5% dibutuhkan modal sebesar Rp 432 Miliar. Kemudian pada skenario II dengan target pertumbuhan sebesar 8% dibutuhkan modal sebesar Rp 759 Miliar. Kemudian pada skenario III dengan target pertumbuhan sebesar 10% dibutuhkan modal sebesar Rp 1,01 Triliun.
ThesisOpen AccessPDF tersedia
2025•Skripsi, Thesis, Disertasi, dan Tugas Akhir
Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui dan menganalisis efisiensi relatif produksi, penyerapan kredit, efektivitas kredit, pola keterkaitan, serta kebutuhan kapital terhadap industri pengolahan di Indonesia. Penelitian ini dilakukan dengan menggunakan metode pendekatan kuantitatif deskriptif dengan data sekunder hasil publikasi Bank Indonesia (BI) dan Badan Pusat Statistik (BPS). Penelitian ini menggunakan data dari tahun 2018-2023. Penelitian ini menggunakan alat analisis Locatient Quantient (LQ) yang di transformasikan ke dalam rumus efisiensi relatif produksi, penyerapan kredit, Incremental Capital Output Ratio (ICOR), pola pemetaan, dan perencanaan kebutuhan kapital. Hasil penelitian ini menunjukkan bahwa efisiensi relatif produksi sektor industri pengolahan periode 2018-2023 yang basis yakni Jawa dengan nilai rata-rata 1,13, sedangkan Bali dan Nusa Tenggara adalah non basis dengan nilai rata-rata 0,13. Hasil penelitian penyerapan kredit sektor industri pengolahan Jawa tertinggi dengan nilai rata-rata 1,26 dan yang terendah Bali dan Nusa Tenggara dengan nilai rata-rata 0,18. Efektivitas kredit dengan nilai terendah adalah Jawa dengan rata-rata nilai Rp 4,1 sedangkan Bali dan Nusa Tenggara nilai efektivitas tinggi dengan nilai rata-rata Rp 39,83. Pola keterkaitan efisiensi relatif produksi dan penyerapan kredit menunjukkan provinsi yang terklasifikasi sebagai progresif inovatif adalah Kepulauan Riau dan Riau berturut-turut selama tahun 2019, 2021, dan 2023. Sedangkan provinsi yang terklasifikasi gagal adalah Sumatera Utara dan Sumatera Selatan. Kemudian kebutuhan kapital dengan target pertumbuhan sebesar 4,6% dibutuhkan kapital sebesar 8.39 ribu triliun. Selanjutnya proyeksi kebutuhan kapital sebesar 7% membutuhkan tambahan kapital kredit secara keseluruhan sebesar 13.73 ribu triliun. Kemudian proyeksi kebutuhan kapital sebesar 9% mampu menghasilkan kebutuhan kapital hingga sebesar 18.77 ribu triliun.
ThesisOpen AccessPDF tersedia
2025•Skripsi, Thesis, Disertasi, dan Tugas Akhir
Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui efisiensi relatif produksi, penyerapan pembiayaan perbankan, dan efektivitas pembiayaan perbankan pada sektor pertanian. Penelitian ini dilakukan menggunakan pendekatan kuantitatif deskriptif dengan data sekunder hasil publikasi Bank Indonesia (BI) dan Badan Pusat Statistik (BPS). Menggunakan alat analisis Location Quotient (LQ) yang telah ditransformasi menjadi efisiensi relatif produksi dan penyerapan pembiayaan, Incremental Capital Output Ratio (ICOR), pola pemetaan, dan perencanaan kebutuhan kapital. Hasil penelitian ini menunjukkan bahwa kawasan yang memiliki tingkat efisiensi relatif produksi tertinggi adalah kawasan Sulawesi dengan nilai efisiensi 2,19 yang tergolong basis, sementara Jawa menjadi satu-satunya kawasan dengan tingkat efisiensi relatif produksi dengan nilai 0,60 yang tergolong non basis. Penyerapan pembiayaan perbankan untuk sektor pertanian tertinggi adalah kawasan Sulawesi dengan nilai penyerapan 2,61. Sementara di kawasan Kalimantan penyerapannya terendah dengan nilai 1,08. Analisis Incremental Capital Output Ratio (ICOR) kawasan dengan nilai efektif adalah Bali dan Nusa Tenggara dengan nilai 1,1. Kemudian paling tidak efektif adalah pulau Jawa dengan nilai 14,9. Pola pemetaan efisiensi relatif produksi dengan penyerapan pembiayaan menunjukkan provinsi yang terklasifikasi progresif inovatif adalah provinsi Riau, Kalimantan Barat, dan Maluku Utara. Kemudian provinsi yang terklasifikasi gagal adalah provinsi Jawa Timur, Papua Barat, dan DI Yogyakarta. Analisis perencanaan kebutuhan kapital setiap kawasan di Indonesia tahun 2024-2030 dengan target pertumbuhan ekonomi sebesar 3% dibutuhkan kapital sebesar 2.337 triliun. Kemudian target pertumbuhan 4.5% dibutuhkan kapital sebesar 3.668 triliun Sementara untuk target pertumbuhan ekonomi sebesar 6% dibutuhkan kapital sebesar 5.120 triliun.