Lewati ke konten utama
Beranda / Hasil pencarian

Hasil pencarian

Jelajahi seluruh publikasi yang tersedia.

5 hasil
Subjek: struktur komunitas
DaftarKartu
ThesisOpen AccessPDF tersedia

STRUKTUR KOMUNITAS MANGROVE DI KAWASAN WISATA MANGROVE KAMPUNG BAHARI NUSANTARA KOTA TARAKAN

2026•Skripsi, Thesis, Disertasi, dan Tugas Akhir

Mangrove merupakan ekosistem pesisir yang berperan penting dalam mendukung stabilitas lingkungan serta menopang kehidupan masyarakat pesisir, salah satunya di Kampung Bahari Nusantara (KBN) yang ekosistem mangrovenya masih terjaga kealamiannya. Meskipun kondisi vegetasinya masih tergolong baik, kawasan ini tetap menghadapi tekanan seiring berkembangnya kawasan sekitar, salah satunya berupa minimnya pemahaman masyarakat tentang fungsi ekologis mangrove serta keberadaan dermaga angkatan laut Lantamal XIII Tarakan. Penelitian ini bertujuan menganalisis struktur komunitas mangrove berdasarkan Indeks Kekayaan Spesies, Keanekaragaman, Keseragaman, Dominansi, dan Nilai Penting, serta mengkaji kualitas perairan sebagai pendukungnya. Penelitian dilaksanakan pada Februari - Maret 2026 menggunakan pendekatan deskriptif kuantitatif dengan metode purposive sampling pada tiga stasiun pengamatan, masing-masing terdiri atas 5 plot berukuran 10×10 m (pohon), 5×5 m (anakan), dan 1×1 m (semai). Hasil penelitian menemukan lima jenis mangrove, yaitu Avicennia alba, Avicennia marina, Rhizophora apiculata, Rhizophora mucronata, dan Sonneratia alba, dengan indeks kekayaan spesies tergolong rendah di seluruh stasiun (I = 0,539; II = 0,416; III = 0,486), indeks keanekaragaman tergolong rendah di seluruh stasiun (I = 0,272; II = 0,248; III = 0,602), indeks keseragaman Stasiun I dan II tergolong sedang (0,569 dan 0,520) sedangkan Stasiun III tergolong tinggi (0,861), serta indeks dominansi Stasiun I dan II tergolong tinggi (0,669 dan 0,700) sedangkan Stasiun III tergolong sedang (0,306). Sonneratia alba tercatat sebagai spesies paling dominan dengan Indeks Nilai Penting tertinggi 257,7%. Kadar oksigen terlarut tergolong rendah akibat tingginya dekomposisi serasah, sementara salinitas, pH, dan suhu masih dalam kisaran yang mendukung pertumbuhan mangrove. Hasil ini menunjukkan struktur komunitas mangrove di kawasan ini secara keseluruhan mencerminkan ekosistem yang belum stabil secara ekologis, di mana proses suksesi masih berlangsung menuju komunitas yang lebih beragam dan seimbang.

9 dilihat · 4 unduhanSitasiDetail
ThesisOpen AccessPDF tersedia

Struktur Komunitas Makrobentos Pada Zona Sonneratia sp Di Pulau Tibi Kabupaten Bulungan Kalimantan Utara

2026•Skripsi, Thesis, Disertasi, dan Tugas Akhir

19.501 hektar mangrove hilang setiap tahun dari total luasan 3,44 juta hektar, dengan sebagian besar berada di kawasan hutan dan sisanya di luar area konservasi sehingga lebih rentan terhadap kerusakan. Upaya pelestarian dan rehabilitasi mangrove merupakan langkah penting untuk memastikan keberlanjutan wilayah pesisir Indonesia. Alih fungsi lahan mangrove menjadi tambak, yang dapat menurunkan kelimpahan makrozoobentos dan berdampak pada berkurangnya kestabilan ekosistem pesisir. Penelitian ini dilaksanakan di Pulau Tibi, Kalimantan Utara pada tanggal 16-18 Januari 2026. Lokasi penelitian merupakan kawasan pertambakan. Pengambilan sampel makrobentos dilakukan sebanyak 9 kali. Struktur komunitas makrobentos dianalisa dengan beberapa indeks ekologi, yaitu, Indeks Keanekaragaman (H’), Indeks Kekayaan spesies (R), Indeks Keseragaman (E), Indeks Dominansi (C), dan Indeks Nilai Penting (INP). Hasil menunjukkan H' 0,71 yang menunjukkan bahwa jumlah spesies yang ditemukan masih sangat terbatas dan distribusi individu antar spesies tidak merata, Nilai R diperoleh 0,74 menunjukkan bahwa bahwa komunitas belum memiliki variasi jenis yang tinggi, sehingga struktur komunitas cenderung sederhana. Nilai E diperoleh 0,92 menunjukkan bahwa tidak terdapat perbedaan mencolok dalam jumlah individu pada masing-masing spesies. Nilai C dioeroleh 0,22 menunjukkan bahwa tidak ada spesies yang secara signifikan mendominasi komunitas. Distribusi individu yang relatif merata antara spesies menyebabkan tingkat dominansi menjadi kecil, sehingga struktur komunitas terlihat lebih seimbang. Nilai INP secara umum masih rendah. Kondisi ini menunjukkan bahwa peran masing-masing spesies dalam komunitas bentos belum terlalu besar. Secara ekologis tidak ada satu spesies pun yang benar-benar mendominasi ekosistem. Telescopium dan Nerita memiliki nilai INP lebih tinggi dibandingkan spesies lainnya menunjukkan bahwa keduanya memegang peran ekologis yang cukup besar dalam struktur komunitas makrobentos di ekosistem tersebut.

4 dilihat · 2 unduhanSitasiDetail
ThesisOpen AccessPDF tersedia

ANALISIS PARAMETER FISIKA KIMIA DAN PLANKTON PADA PERAIRAN TAMBAK BUDIDAYA UDANG WINDU (Panaeus monodon) DI KABUPATEN BULUNGAN KALIMANTAN UTARA

2025•Skripsi, Thesis, Disertasi, dan Tugas Akhir

Kabupaten Bulungan dikenal sebagai salah satu daerah utama penghasil udang windu di Indonesia, dengan luas lahan tambak yang paling besar di Provinsi Kalimantan Utara. Faktor pendukung utama yang menentukan keberhasilan budidaya udang windu (Penaeus monodon) pada sistem tambak tradisional yakni kualitas air dan keberadaan plankton. Plankton memiliki peran penting sebagai produsen primer dan indikator kesuburan perairan, sehingga berpengaruh terhadap keseimbangan ekosistem tambak. Penelitian ini bertujuan untuk menganalisis parameter fisika-kimia air dan struktur komunitas plankton pada tambak udang windu di Kabupaten Bulungan, Kalimantan Utara. Penelitian menggunakan metode survei dengan pengambilan sampel air dan plankton di lima lokasi tambak, yaitu Pulau Kepiting, Pulau Tengkolang, Pulau Berasan, Pulau Tanjung Karis, dan Desa Salimbatu. Parameter kualitas air yang diukur meliputi suhu, salinitas, pH, oksigen terlarut (DO), nitrat, fosfat, nitrit, dan amoniak. Data dibandingkan dengan baku mutu air tambak berdasarkan Permen KP No. 75 Tahun 2016. Hasil penelitian menunjukkan bahwa sebagian besar parameter kualitas air berada dalam kisaran baku mutu, meskipun suhu, amoniak (0,31–0,54 mg/L), dan nitrit (0,02–0,034 mg/L) sedikit melebihi ambang batas. Struktur komunitas plankton menunjukan kelimpahan sebesar 2.482 sel+ind/sel jumlah ini berada pada kategori rendah. Nilai indeks keanekaragaman (H′) sedang serta indeks keseragaman (E) yang relatif tinggi dan terdapat jenis plankton yang mendominasi yaitu Oscillatoria (fitoplankton) dan Cyclops (zooplankton). Hal ini menunjukkan kondisi perairan tambak yang masih tergolong stabil dan produktif.

7 dilihat · 0 unduhanSitasiDetail
ThesisOpen AccessPDF tersedia

ANALISIS STRUKTUR KOMUNITAS PLANKTON SEBAGAI BIOINDIKATOR KUALITAS AIR DI SUNGAI PAMUSIAN, SUNGAI SEBENGKOK DAN SUNGAI KAMPUNG BUGIS KOTA TARAKAN

2022•Skripsi, Thesis, Disertasi, dan Tugas Akhir

Perairan sungai menjadi pusat ekosistem tempat tumbuh dan berkembangnya berbagai jenis biota. Adanya aktivitas masyarakat di daerah aliran sungai berpotensi menyebabkan pencemaran. Tujuan penelitian ini untuk mengetahui tingkat pencemaran perairan di Sungai Pamusian (Stasiun I), Sungai Sebengkok (Stasiun II), dan Sungai Kampung Bugis (Stasiun III) dengan menganalisis struktur komunitas plankton sebagai bioindikator kualitas air. Metode pada penelitian ini menggunakan deskriptif kuantitatif. Hasil penelitian diperoleh jenis fitoplankton yang di temukan pada 3 Sungai lokasi penelitian terdiri 5 kelas fitoplankton yaitu kelas Bacillariophyceae, Coscinodiscophyceae, Cyanophyceae, Mediophyceae dan Dinophyceae serta 1 kelas zooplankton yaitu Crustacea. Jenis fitoplankton yang paling banyak di temukan yaitu dari kelas Bacillariophyceae dan Cyanophyceae. Nilai kelimpahan fitoplankton pada lokasi penelitian berturut-turut yaitu 42 sel/L, 13 sel/L dan 20 sel/L. Kelimpahan zooplankton pada lokasi penelitian berturut-turut yaitu 8 ind/L, 4 ind/L dan 5 ind/L. Kelimpahan plankton pada perairan ini termasuk dalam kategori kesuburan rendah. Nilai Indeks keanekaragaman fitoplankton pada lokasi penelitian berturut-turut yaitu 2,614; 2,598; 2,470 dengan kategori kesuburan tinggi. Nilai indeks keanekaragaman zooplankton berturut-turut yaitu 1,305; 1,040; 1,055 termasuk dalam kategori kesuburan sedang. Nilai Indeks Keseragaman fitoplankton berturut-turut yaitu 0,888; 0,959; 0,912, sedangkan nilai ndeks keseragaman zooplankton berturut-turut 0,941; 1, 057; 0,960 artinya tidak ada jenis yang mendominansi. Nilai indeks dominansi fitoplankton berturut-turut 0,028; 0,021; 0,030 dan zooplankton berturut-turut 0,094; 0,094; 0,090 menunjukkan tidak ada spesies tertentu yang mendominansi. Indeks saprobitas pada stasiun I dan II berturut-turut yaitu 2,0 dan 2,5 termasuk kategori pencemaran sangat ringan dengan fase saprobitas olisaprobik, sedangkan stasiun III memiliki indeks saprobitas 0,75 termasuk kategori pencemaran ringan dengan fase saprobitas mesosaprobik.

10 dilihat · 0 unduhanSitasiDetail
ThesisOpen AccessPDF tersedia

STRUKTUR KOMUNITAS PLANKTON DI PERAIRAN PANTAI AMAL LAMA KOTA TARAKAN

2022•Skripsi, Thesis, Disertasi, dan Tugas Akhir

Plankton merupakan parameter biologi yang dapat dijadikan sebagai indikator untuk mengetahui kualitas dan tingkat kesuburan suatu perairan. Penelitian ini bertujuan untuk menganalisis struktur komunitas plankton yang ada di perairan Pantai Amal Lama Kota Tarakan. Penelitian dilaksanakan selama 2 bulan, mulai bulan Juni sampai Agustus 2021, dilakukan pada 2 stasiun dimana stasiun 1 daerah muara Sungai Mambulua dan stasiun 2 kawasan mangrove. Metode analisis yang digunakan adalah metode deskriftif kuantitatif dengan mempelajari objek secara mendalam pada waktu, tempat serta populasi yang terbatas sehingga dapat memberikan gambaran tentang situasi dan kondisi. Kelimpahan fitoplankton pada stasiun 1 berkisar 1000-25.500 sel/L dan stasiun 2 berkisar 2000-50.000 sel/L. Kelimpahan zooplankton pada stasiun 1 berkisar 1000-13.500 ind/L dan stasiun 2 berkisar 1000-21.000 ind/L. Keanekaragaman fitoplankton pada stasiun 1 berkisar 0,67-2,40 sel/L dan stasiun 2 berkisar 0,56-2,31 sel/L. Keanekaragaman zooplankton pada stasiun 1 berkisar 0,35-1,27 ind/L dan stasiun 2 berkisar 0,00-1,27 ind/L. Keseragaman fitoplankton pada stasiun 1 berkisar 0,39-1,00 sel/L dan stasiun 2 berkisar 0,38-0,83 sel/L. keseragaman zooplankton pada stasiun 1 berkisar 0,16-1,00 ind/L dan stasiun 2 berkisar 0,00-1,00 ind/L. Dominansi fitoplankton pada stasiun 1 berkisar 0,12-0,52 dan stasiun 2 berkisar 0,12-0,63. Dominansi zooplankton pada stasiun 1 berkisar 0,31-0,80 dan stasiun 2 berkisar 0,33-1,00. Kelimpahan yang dihasilkan menggambarkan tingkat kesuburan perairan tergolong tinggi dan termasuk perairan eutrofik. Keanekaragaman termasuk kategori sedang untuk jenis fitoplankton dan kategori rendah dari jenis zooplankton. Keseragaman fitoplankton tinggi tergolong stabil dan keseragaman zooplankton rendah dalam kategori tidak stabil. Dominansi fitoplankton tidak terdapat jenis yang mendominansi dan dominansi zooplankton terdapat jenis yang mendominansi disuatu perairan.

8 dilihat · 7 unduhanSitasiDetail