ThesisOpen AccessPDF tersedia
2026•Skripsi, Thesis, Disertasi, dan Tugas Akhir
Mangrove merupakan ekosistem pesisir yang berperan penting dalam mendukung stabilitas lingkungan serta menopang kehidupan masyarakat pesisir, salah satunya di Kampung Bahari Nusantara (KBN) yang ekosistem mangrovenya masih terjaga kealamiannya. Meskipun kondisi vegetasinya masih tergolong baik, kawasan ini tetap menghadapi tekanan seiring berkembangnya kawasan sekitar, salah satunya berupa minimnya pemahaman masyarakat tentang fungsi ekologis mangrove serta keberadaan dermaga angkatan laut Lantamal XIII Tarakan. Penelitian ini bertujuan menganalisis struktur komunitas mangrove berdasarkan Indeks Kekayaan Spesies, Keanekaragaman, Keseragaman, Dominansi, dan Nilai Penting, serta mengkaji kualitas perairan sebagai pendukungnya. Penelitian dilaksanakan pada Februari - Maret 2026 menggunakan pendekatan deskriptif kuantitatif dengan metode purposive sampling pada tiga stasiun pengamatan, masing-masing terdiri atas 5 plot berukuran 10×10 m (pohon), 5×5 m (anakan), dan 1×1 m (semai). Hasil penelitian menemukan lima jenis mangrove, yaitu Avicennia alba, Avicennia marina, Rhizophora apiculata, Rhizophora mucronata, dan Sonneratia alba, dengan indeks kekayaan spesies tergolong rendah di seluruh stasiun (I = 0,539; II = 0,416; III = 0,486), indeks keanekaragaman tergolong rendah di seluruh stasiun (I = 0,272; II = 0,248; III = 0,602), indeks keseragaman Stasiun I dan II tergolong sedang (0,569 dan 0,520) sedangkan Stasiun III tergolong tinggi (0,861), serta indeks dominansi Stasiun I dan II tergolong tinggi (0,669 dan 0,700) sedangkan Stasiun III tergolong sedang (0,306). Sonneratia alba tercatat sebagai spesies paling dominan dengan Indeks Nilai Penting tertinggi 257,7%. Kadar oksigen terlarut tergolong rendah akibat tingginya dekomposisi serasah, sementara salinitas, pH, dan suhu masih dalam kisaran yang mendukung pertumbuhan mangrove. Hasil ini menunjukkan struktur komunitas mangrove di kawasan ini secara keseluruhan mencerminkan ekosistem yang belum stabil secara ekologis, di mana proses suksesi masih berlangsung menuju komunitas yang lebih beragam dan seimbang.
ThesisOpen AccessPDF tersedia
2026•Skripsi, Thesis, Disertasi, dan Tugas Akhir
Ekosistem mangrove merupakan habitat penting bagi makrozoobentos yang berperan sebagai bioindikator kondisi lingkungan perairan. Kawasan Wisata Mangrove Kampung Bahari Nusantara (KBN) di Kota Tarakan merupakan ekosistem mangrove yang masih terjaga kealamiannya, namun menghadapi tekanan lingkungan akibat keberadaan dermaga Pangkalan TNI Angkatan Laut (Lantamal) XIII yang berdekatan dengan zona wisata, serta minimnya pemahaman masyarakat tentang fungsi ekologis mangrove. Data mengenai indeks ekologi makrozoobentos di kawasan ini belum tersedia, sehingga penelitian ini bertujuan menganalisis struktur komunitas makrozoobentos dan kondisi kualitas perairan di KBN sebagai dasar pengelolaan dan pelestarian kawasan secara berkelanjutan. Penelitian menggunakan metode deskriptif kuantitatif dengan teknik purposive sampling pada tiga stasiun pengamatan, dengan pengambilan sampel makrozoobentos pada 15 plot kuadrat berukuran 1 m². Data dianalisis menggunakan indeks keanekaragaman, keseragaman, dominansi, kekayaan spesies, dan Indeks Nilai Penting, serta parameter kualitas air meliputi suhu, salinitas, pH, dan oksigen terlarut. Hasil penelitian menunjukkan indeks keanekaragaman berkisar 0,412–0,566 dan kekayaan spesies 0,541–0,624 (keduanya rendah), indeks keseragaman 0,395–0,543 (rendah hingga sedang), dan indeks dominansi 0,423–0,618 (sedang hingga tinggi). Tarebia granifera merupakan spesies dengan peranan ekologis terbesar pada seluruh stasiun, dengan Indeks Nilai Penting tertinggi di Stasiun 2 (101,55%), diikuti Stasiun 1 (91,92%) dan Stasiun 3 (78,87%). Parameter kualitas air menunjukkan suhu 29,5–30,5 °C, salinitas 25–28 ppt, pH 6,9–7,9, dan oksigen terlarut 4,4–4,8 mg/L, yang belum memenuhi baku mutu air laut untuk biota laut sehingga menjadi faktor pembatas kehidupan makrozoobentos. Secara keseluruhan, komunitas makrozoobentos di KBN memiliki keanekaragaman dan kekayaan spesies rendah serta didominasi oleh spesies tertentu, mengindikasikan adanya tekanan lingkungan pada kawasan tersebut.
ThesisOpen AccessPDF tersedia
2026•Skripsi, Thesis, Disertasi, dan Tugas Akhir
Penelitian ini bertujuan untuk menganalisis potensi pemanfaatan limbah jeroan ikan dari pasar tradisional Kota Tarakan dan lumpur mangrove sebagai media penghasil energi listrik menggunakan sistem Microbial Fuel Cell (MFC). Penelitian dilaksanakan pada September–November 2025 di Laboratorium Minihatchery Fakultas Perikanan dan Ilmu Kelautan Universitas Borneo Tarakan. Metode penelitian menggunakan dua perlakuan, yaitu perlakuan dengan penambahan lumpur mangrove dan perlakuan tanpa lumpur mangrove, masing-masing dilakukan tiga kali pengulangan selama 60 hari pengamatan. Limbah jeroan ikan digunakan sebagai substrat organik, sedangkan lumpur mangrove berfungsi sebagai sumber mikroorganisme elektrogenik. Pengukuran tegangan dilakukan setiap hari menggunakan multimeter digital. Hasil penelitian menunjukkan bahwa kedua perlakuan mampu menghasilkan energi listrik dengan kecenderungan peningkatan tegangan selama masa pengamatan. Tegangan rata-rata pada perlakuan dengan lumpur mangrove sebesar 0,7108 V, sedangkan perlakuan tanpa lumpur mangrove sebesar 0,7015 V. Tegangan maksimum yang diperoleh mencapai sekitar 0,78 V. Hasil uji statistik t-test menunjukkan bahwa perbedaan kedua perlakuan tidak signifikan secara statistik (p>0,05), namun secara deskriptif penambahan lumpur mangrove menghasilkan tegangan yang lebih tinggi dan mempercepat fase adaptasi mikroorganisme dalam sistem MFC. Penelitian ini membuktikan bahwa limbah jeroan ikan memiliki potensi sebagai sumber energi alternatif ramah lingkungan sekaligus mendukung pengelolaan limbah perikanan secara berkelanjutan.
ThesisOpen AccessPDF tersedia
2026•Skripsi, Thesis, Disertasi, dan Tugas Akhir
Penelitian ini bertujuan untuk mengidentifikasi jenis tumbuhan mangrove di Kawasan Wisata Belagaone Karya, Kabupaten Nunukan, serta menganalisis potensinya sebagai bahan ajar Biologi. Penelitian dilakukan pada Agustus– September 2025 menggunakan metode deskriptif eksploratif dengan teknik purposive sampling melalui 5 transek dan 5 plot pada setiap transek. Hasil penelitian menunjukkan terdapat tiga jenis mangrove, yaitu (Bakau minyak) Rhizopora apiculata, (Api-api putih) Avicennia alba, (Bakau taji) Ceriops tagal. Spesies yang paling dominan adalah (Bakau minyak) Rhizopora apiculata, sedangkan (Bakau taji) Ceriops tagal memiliki jumlah individu paling sedikit dan hanya ditemukan pada transek 4 dan 5. Kondisi lingkungan seperti suhu rata-rata 28°C, salinitas 73%o, pH air 6,86, pH tanah 3,5, kondisi air laut pada saat surut, dan substrat tanah berlumpur, masih mendukung pertumbuhan mangrove. Hasil penelitian ini berpotensi dimanfaatkan sebagai bahan ajar Biologi kelas X SMA pada materi keanekaragaman hayati dan ekologi untuk meningkatkan pemahaman konsep serta kepedulian peserta didik terhadap lingkungan.
ThesisOpen AccessPDF tersedia
2026•Skripsi, Thesis, Disertasi, dan Tugas Akhir
Ekowisata merupakan konsep pariwisata berkelanjutan yang memadukan konservasi, pendidikan, dan pemberdayaan masyarakat lokal. Kawasan Konservasi Mangrove dan Bekantan (KKMB) di Kota Tarakan memiliki luas 22 ha dan berfungsi sebagai paru-paru kota, penahan abrasi, serta habitat bekantan yang merupakan satwa endemik Kalimantan. Potensi besar kawasan ini mendorong perlunya kajian kesesuaian dan daya dukung untuk memastikan pemanfaatannya sebagai destinasi ekowisata tidak melebihi kapasitas ekologis. Penelitian ini bertujuan menganalisis kesesuaian dan daya dukung kawasan ekowisata mangrove KKMB dengan menggunakan metode deskriptif kuantitatif melalui observasi lapangan, pengukuran ketebalan dan kerapatan mangrove, identifikasi jenis mangrove dan biota asosiasi, serta analisis pasang surut. Data primer diperoleh dari pengamatan langsung, sedangkan data sekunder berasal dari laporan flora-fauna dan data pengunjung. Hasil penelitian menunjukkan nilai Indeks Kesesuaian Wisata (IKW) sebesar 2,51 (83,7%) yang termasuk kategori sangat sesuai (S1). Perhitungan daya dukung kawasan menunjukkan kapasitas maksimum 9 orang per jam atau sekitar 81 orang per hari. Analisis Indeks Nilai Penting (INP) menempatkan Avicennia alba (86,29%) dan Rhizophora apiculata (84,82%) sebagai spesies dominan. Simpulannya, KKMB sangat layak dikembangkan sebagai ekowisata mangrove berkelanjutan, namun keberhasilan pengelolaan tetap bergantung pada pemeliharaan infrastruktur, kebersihan, dan konservasi ekosistem agar manfaat ekologis, sosial, dan ekonomi dapat terus berkelanjutan.
ThesisOpen AccessPDF tersedia
2026•Skripsi, Thesis, Disertasi, dan Tugas Akhir
Lumpur mangrove diketahui mengandung bahan organik tinggi yang menjadi habitat potensial bagi berbagai mikroorganisme, termasuk bakteri yang berperan penting dalam proses biogeokimia dan bioremediasi lingkungan. Penelitian ini bertujuan untuk mengisolasi dan mengidentifikasi jenis bakteri yang terdapat pada lumpur mangrove di tiga lokasi di Kota Tarakan, yaitu Amal, Perikanan, dan Mamburungan. Proses penelitian meliputi pengambilan sampel lumpur pada kedalaman 30 cm, pembuatan media, sterilisasi alat dan bahan, isolasi bakteri, serta pengujian biokimia yang mencakup uji pewarnaan gram, katalase, oksidase, dan MIO (Motility, Indole, Ornithine). Hasil penelitian menunjukkan bahwa isolat bakteri dari ketiga lokasi memiliki karakter morfologi dan fisiologi yang bervariasi, terdiri dari bakteri gram positif dan gram negatif dengan bentuk kokus dan basil. Isolat dari lokasi Amal didominasi oleh bakteri gram positif berbentuk kokus, sedangkan dari lokasi Perikanan dan Mamburungan didominasi oleh basil gram positif maupun negatif. Berdasarkan hasil uji biokimia, beberapa isolat teridentifikasi sebagai Staphylococcus spp., Bacillus spp., dan Pseudomonas spp. Variasi hasil katalase dan oksidase menunjukkan adanya perbedaan aktivitasenzimatik antar lokasi. Kesimpulan penelitian ini menunjukkan bahwa lumpur mangrove di Kota mengandung berbagai jenis bakteri dengan bentuk dan sifat yang beragam, terdiri dari bakteri gram positif dan gram negatif. Beberapa bakteri yang berhasil diidentifikasi antara lain Staphylococcus spp., Bacillus spp., dan Pseudomonas spp. dengan potensi besar sebagai agen bioteknologi dan bioremediasi lingkungan. Penelitian lebih lanjut dengan metode molekuler seperti analisis gen 16S rRNA disarankan untuk mengonfirmasi hasil identifikasi fenotipik dan mengeksplorasi potensi fungsional isolat yang diperoleh.
ThesisOpen AccessPDF tersedia
2025•Skripsi, Thesis, Disertasi, dan Tugas Akhir
Pulau Tarakan, Kalimantan Utara, memiliki ekosistem mangrove yang menjadi habitat penting bagi berbagai biota, salah satunya Geloina sp yang mampu beradaptasi terhadap fluktuasi salinitas dan memanfaatkan bahan organik dari serasah mangrove. Penelitian ini bertujuan menganalisis pola distribusi, kepadatan, serta hubungan panjang-berat Geloina sp sebagai dasar pengelolaan ekosistem mangrove berkelanjutan. Penelitian dilaksanakan dari bulan Maret-Mei 2025 menggunakan metode deskriptif kuantitatif dengan Teknik purposive sampling pada tiga area mangrove 9 ha (depan, tengah, dan belakang) dengan 30 plot transek kuadrat berukuran 5×5 m dan jarak antar area 30 m. Sampel dikumpulkan saat surut untuk menghitung kepadatan (ind/m²), pola distribusi dengan indeks Morisita, distribusi frekuensi ukuran cangkang, serta hubungan panjang-berat individu. Hasil penelitian menunjukkan vegetasi mangrove didominasi Rhizophora sp. dan Avicennia sp., dengan kepadatan tertinggi pada area depan (0,88 ind/m², 22 individu), diikuti area belakang (0,60 ind/m², 15 individu) dan tengah (0,48 ind/m², 12 individu). Hasil perhitungan Indeks Morisita (I = 0.9) menunjukkan bahwa pola distribusi Geloina sp di kawasan mangrove KKMB Kota Tarakan bersifat merata/seragam. Sebagian besar individu berukuran sedang (5,59–6,31 cm), dan hubungan panjang-berat mengikuti persamaan W = 0,3532·L³·¹⁹⁵⁷ (R² = 0,9041), menunjukkan pertumbuhan alometrik positif. Ekosistem mangrove KKMB mendukung keberadaan Geloina sp., namun kepadatannya masih rendah sehingga perlu pengelolaan berkelanjutan untuk meningkatkan populasi dan menjaga habitatnya.
ThesisOpen AccessPDF tersedia
2024•Skripsi, Thesis, Disertasi, dan Tugas Akhir
Fitoplankton merupakan produsen primer yang berperan penting bagi perairan. Fitoplankton membentuk materi organik dari anorganik melalui proses fotosintesis dan dimanfaatkan oleh organisme lainnya. Sedangkan tahap terakhirnya adalah dekomposer yaitu terjadi pelepasan nitrat dan fosfat. Oleh karena itu penelitian ini bertujuan untuk menganalisis korelasi antara kelimpahan fitoplankton dengan kandungan nitrat dan fosfat di Kawasan Konservasi Mangrove dan Kepiting Kelurahan Pamusian. Penelitian dilakukan pada Juni – Juli 2023. Pengambilan sampel dilakukan pada 5 titik. Metode kerja meliputi pengambilan sampel air untuk menguji kandungan nitrat, fosfat serta fitoplankton dan dilakukan juga pengambilan data pendukung sepert suhu, oksigen terlarut dan pH. Sampel fitoplankton diidentifikasi kemudian dihitung kelimpahan dan keanekaragaman. Hasil penelitian menunjukkan nitrat berkisar 0,07 – 4,12 mg/L dan fosfat berkisar 0,02 – 0,31 mg/L. Fitoplankton yang ditemukan terdapat 9 genus dari 6 kelas yaitu Bacillariophyceae 4 genus (Synedra, Rhizosolenia, Cyclotella, dan Navicula distars ), Cyanophyta 1 genus (Anabaena), Coscinodiscophycidae 1 genus (Isthmia), Dinophyceae 1 genus (Dinophysis acuminata), Litostomatea 1 genus (Loxophyllum), dan Phytomastigophorca 1 genus (Ceratium extensum). Kelimpahan fitoplankton berkisar 9 – 13 sel/L, indeks keanekaragaman berkisar 0,362 – 1,333. Berdasarkan pengujian statistik, terdapat korelasi antara nitrat dan fosfat terhadap kelimpahan fitoplankton dengan korelasi sebesar 0,856 sehingga termasuk dalam kategori korelasi tinggi.
ThesisOpen AccessPDF tersedia
2024•Skripsi, Thesis, Disertasi, dan Tugas Akhir
Nitrogen adalah sumber nutrien pada serasah yang dibutuhkan oleh organisme sebagai sumber makanan yang pada umumnya berada pada substrat dasar. Proses dekomposisi serasah akan menghasilkan bahan anorganik yang berperan dalam menentukan kesuburan perairan salah satunya adalah nitrogen. Tujuan penelitian ini adalah untuk menganalisis kandungan nitrogen total yang terdekomposisi pada serasah daun mangrove jenis Avicennia alba di Kawasan Konservasi Mangrove dan Kepiting Kelurahan Pamusian Kota Tarakan. Penelitian ini dilakukan pada bulan April sampai dengan Agustus 2023 dengan metode deskriptif kuantitatif. Penelitian ini dilakukan di tiga stasiun, stasiun 1 terletak dialiran Sungai Pamusian, stasiun 2 terletak didekat Menara Pengawas, dan stasiun 3 terletak didekat pemukiman masyarakat. Hasil penelitian menunjukkan laju dekomposisi serasah daun mangrove Avicennia alba semakin berkurang berdasarkan perubahan harinya yaitu berkisar 0,71 g/hari – 0,17 g/hari, sedangkan kandungan nitrogen total pada serasah daun Avicennia alba yang terdekomposisi selama 56 hari berdasarkan stasiun berkisar 0,66 - 0,71 %. Tingginya kadar nitrogen tersebut disebabkan oleh daerah sampling yang memiliki substrat berlumpur. Perairan berlumpur menjadi tempat menumpuknya bahan organik yang terbawa aliran air, sedangkan tekstur dan ukuran partikel halusnya memudahkan penyerapan bahan organik.
ThesisOpen AccessPDF tersedia
2023•Skripsi, Thesis, Disertasi, dan Tugas Akhir
Sampah plastik menjadi salah satu sumber polutan yang dapat memberikan dampak buruk, tidak hanya pada lingkungan laut saja, melainkan dapat memberikan dampak untuk biota yang ada pada lingkungan mangrove. Sampah plastik memiliki densitas yang lebih rendah dari air laut sehingga dapat mengapung di permukaan dan tersebar hingga ke permukaan dan berpotensi mengendap pada sedimen. Sampah plastik dapat mengalami pemecahan menjadi ukuran yang lebih kecil disebut mikroplastik. Mikroplastik memiliki ukuran partikel 5 mm, dengan ukurannya yang kecil dapat menyebabkan mikroplastik mudah di transportasikan keseluruh tempat termasuk ke sistem tubuh biota laut yang hidup atau berkembang biak pada ekosistem mangrove. Tujuan dilakukannya penelitian yaitu untuk mengetahui keberadaan mikroplastik berdasarkan bentuk, warna dan ukuran yang terdapat pada sedimen di Kawasan Konservasi Mangrove dan Bekantan (KKMB). Penelitian ini akan dilaksanakan selama 5 bulan dari bulan Juli hingga November 2022 di KKMB Kota Tarakan. Metode penentuan titik sampling menggunakan teknik purposive sampling dengan 3 stasiun pengamatan. Sampel yang diidentifikasi adalah sampel sedimen di 3 stasiun KKMB. Sampel kemudian diidentifikasi menggunakan mikroskop Nikon elipse ti2 dengan perbesaran 10x. Data yang diperoleh dari hasil penelitian yaitu mikroplastik yang ditemukan pada permukaan sedimen memiliki kisaran kelimpahan sebanyak 266 partikel/3 titik sampel, sedangkan pada kedalaman 30 cm terdapat 407 partikel/3 titik sampel. Bentuk mikroplastik yang teridentifikasi yaitu bentuk film, fragment, pelet dan fiber dengan warna transparan, coklat, hitam, biru, merah, ungu, hijau dan kuning, sedangkan ukuran mikroplastik yang paling banyak ditemukan yaitu ukuran 3-40 µm.
ThesisOpen AccessPDF tersedia
2022•Skripsi, Thesis, Disertasi, dan Tugas Akhir
LAJU DEKOMPOSISI SERASAH DAUN MANGROVE API - API (Avicennia alba) DI KAWASAN KONSERVASI MANGROVE DAN KEPITING KELURAHAN PAMUSIAN KOTA TARAKAN ABSTRAK Serasah mangrove yang jatuh akan mengalami proses dekomposisi dan menghasilkan unsur hara yang dimanfaatkan tanaman mangrove itu sendiri serta sumber makanan bagi biota di perairan. Tujuan penelitian ini adalah untuk mengetahui laju dekomposisi serasah daun mangrove api-api (Avicennia alba) di Kawasan Konservasi Mangrove dan Kepiting Pamusian Kota Tarakan. Penelitian ini dilakukan pada bulan Juli sampai Agustus 2021 di Kawasan Konservasi Mangrove dan Kepiting Pamusian Kota Tarakan. Penentuan stasiun penelitian menggunakan metode purposive sampling berdasarkan jenis mangrove yang dominan yaitu Avicennia alba pada 2 titik stasiun. Hasil penelitian menunjukkan laju dekomposisi serasah daun mangrove Avicennia alba pada stasiun 1 sebesar 0,55 g/hari dan pada stasiun 2 sebesar 0,53 g/hari dan pada stasiun 3 0,52 g/hari. Proses dekomposisi paling tinggi terjadi pada stasiun 1 karena berhadapan langsung dengan laut dan memiliki perendaman yang lebih singkat dan perendaman pada saat pasang tertinggi. Kata Kunci : Avicennia alba, Laju dekomposisi, Mangrove
ThesisOpen AccessPDF tersedia
2022•Skripsi, Thesis, Disertasi, dan Tugas Akhir
ABSTRAK Mangrove merupakan tumbuhan berkayu yang hidup di bibir pantai dan memiliki peran penting bagi kehidupan biota laut salah satunya yaitu sebagai produsen utama bagi biota, maka dari itu pentingnya untuk selalu menjaga dan melestarikan mangrove. penelitian ini bertujuan untuk mengetahui hasil produksi mangrove jenis Avicennia lanata dan laju dekomposisi serasah mangrove di Juata Laut Kota Tarakan. Penelitian ini telah dilaksanakan pada bulan Oktober 2021 sampai dengan bulan Februari 2022 di mangrove Juata Laut. Berdasarkan Hasil penelitian yang telah dilakukan pada 3 stasiun dengan jarak minimal 50 meter per stasiun maka telah didapatkan jumlah produksi dari mulai daun serasah, buah, bunga dan ranting yang di pisahkan terlebih dahulu dan dilakukan proses penimbangan pada berat awal dan berat akhir dengan hasil penelitian telah didapatkan jumlah produksi terbanyak yaitu pada stasiun 2 dengan jumlah produksi 2,73 gram/m2/hari berat akhir. Selanjutnya hasil dari produksi digunakan untuk mendapatkan nilai laju dekomposisi daun serasah selama 56 hari dengan proses awal dilakukan penimbangan pada daun serasah secara rata yaitu seberat 20 gram. Hasil dekomposisi menunjukkan bahwa daun serasah mangrove yang telah di pasang tidak terurai secara sempurna.
ThesisOpen AccessPDF tersedia
2022•Skripsi, Thesis, Disertasi, dan Tugas Akhir
Mangrove memiliki bagian seperti daun, ranting, buah serta bunga yang gugur dan berperan penting sebagai pemasok bahan organik disuatu perairan. Salah satu ekositem mangrove yang ada di Kota Tarakan yaitu Kawasan Konservasi Mangrove dan Kepiting Kelurahan Pamusian. Tujuan penelitian ini untuk menghitung jumlah produksi serasah mangrove Rhizophora mucronata di Kawasan Konservasi Mangrove dan Kepiting Kelurahan Pamusian Kota Tarakan. Penelitian ini dilaksanakan pada bulan Agustus hingga November 2021. Metode yang digunakan pada penelitian ini yaitu deksriptif dan kuantitatif. Penentuan titik lokasi penelitian ini yaitu menggunakan teknik purposive sampling dengan memilih 3 stasiun berdasarkan tegakan mangrove yang dominan. Pengambilan sampel menggunakan jaring penampung serasah yang berukuran 2x2 m dengan waktu pengambilan 1 minggu sekali selama 2 bulan. Hasil produksi serasah mangrove Rhizophora mucronata memiliki nilai sebesar 1.31 g/m2/hari. Komponen produksi serasah paling banyak berasal dari daun dan paling sedikit berasal dari ranting, bunga dan buah. Produksi serasah paling tinggi berasal dari stasiun 3 karena lokasi ini memiliki jumlah kerapatan pohon yang tinggi.
ThesisOpen AccessPDF tersedia
2022•Skripsi, Thesis, Disertasi, dan Tugas Akhir
NILAI MANFAAT EKOSISTEM MANGROVE SEBAGAI EKOWISATA DI KAWASAN KONSERVASI MANGROVE BEKANTAN (KKMB) KOTA TARAKAN Abstrak Konservasi Kawasan Mangrove Bekantan merupakan kawasan ekowisata yang sering dikunjungi oleh masyarakat lokal maupun luar pulau Kota Tarakan. Pemanfaatan hutan mangrove sebagai ekowisata merupakan langkah yang strategis guna untuk meningkatkan kesejahteraan masyarakat secara ekologis dan ekonomis. Namun demikian, nilai ekonomi sumber daya alam yang menawarkan keindahan alam atau lanskap, pada umumnya bersifat non-market atau tidak dapat diperdagangkan. Untuk mengestimasi nilai ekonomi dari jasa lingkungan tersebut harus menggunakan teknik penilaian (valuation) tertentu. Tujuan penelitian ini untuk mengetahui nilai manfaat ekosistem mangrove sebagai ekowisata dengan menggunakan metode analisis biaya perjalanan (Travel Cost Method) dan WTP (Willingness to pay). Lokasi penelitian ini dilaksanakan di KKMB Kecamatan Kota Tarakan Barat, Kota Tarakan, Kalimantan Utara. Penelitian ini dilaksanakan pada bulan september hingga oktober 2021. Metode penelitian yang digunakan adalah pendekatan biaya perjalanan (Travel Cost Method) dan pendekatan biaya kontribusi (WTP). Hasil penelitian yang diperoleh yaitu biaya perjalanan terendah terdapat 44 pengunjung dengan presentase 44 % dengan total biaya perjalanan di rata – ratakan kurang dari Rp. 940.000 – 990.000. Biaya perjalanan rata – rata responden (X1) yang diperoleh dari jumlah biaya perjalanan total responden (BPT) dibagi dengan jumlah responden sebesar Rp. 353.900/kunjungan. Rendahnya biaya perjalanan yang ada disebabkan karena rata – rata yag melakukan kunjungan ke KKMB merupakan warga domestik Kota Tarakan dan Kalimantan Utara maka dari itu biaya perjalanan yang dikeluarkan terbilang kecil.
ThesisOpen AccessPDF tersedia
2022•Skripsi, Thesis, Disertasi, dan Tugas Akhir
Sempadan pantai dan ekosistem mangrove merupakan zona penyangga dengan peranannya yang sangat besar bagi wilayah pesisir dan makhluk hidup disekitarnya. Namun, semakin bertambahnya jumlah penduduk pada suatu pulau, turut mengancam keberadaan ekosistem mangrove. Tingginya kebutuhan lahan bagi masyarakat untuk pembangunan pemukiman, fasilitas umum dan aktivitas lainnya dapat mengakibatkan pengalihfungsian lahan mangrove maupun area sempadan pantai. Tujuan penelitian ini untuk mengajukan rencana alokasi ruang kawasan mangrove berdasarkan habitatnya di area sempadan pantai Kota Tarakan. Pengolahan data menggunakan analisis Geoprocessing buffer radius 100 dan 200 meter dan Intersect pada software Quantum GIS. Pengambilan parameter lingkungan berupa sedimen dan salinitas perairan yang dilakukan secara insitu serta pola pasang surut yang diakses melalui Badan Informasi Geospasial (BIG) dengan bentuk pembahasannya menggunakan metode deskriptif kualitatif. Hasil penelitian menunjukkan bahwa titik lokasi penelitian yang diambil pada beberapa wilayah pesisir Kota Tarakan dikategorikan sesuai sebagai rencana alokasi ruang ekosistem mangrove yaitu pada kawasan Lingkas ujung (stasiun 1), Sebengkok (Stasiun 2), Karang anyar pantai (Stasiun 3), Juata laut (Stasiun 4), Tanjung batu (Stasiun 5) dan Pantai Amal (stasiun 6). Kata kunci: Ekosistem mangrove, alokasi ruang, buffer zone
ThesisOpen AccessPDF tersedia
2021•Skripsi, Thesis, Disertasi, dan Tugas Akhir
Ekstrak daun karamunting telah terbukti mampu mempercepat proses pematangan ovari induk kepiting bakau. Namun penggunaan ekstrak daun karamunting dengan frekuensi pemberian lebih dari satu kali belum pernah diujicoba. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui pengaruh frekuensi pemberian ekstrak daun karamunting yang berbeda terhadap proses pematangan ovari kepiting bakau (Scylla serrata). Penelitian ini menggunakan rancangan acak lengkap dengan empat perlakuan dan tiga ulangan. Perlakuan yang diberikan, yaitu A (kontrol), B (pemberian ekstrak daun karamunting dengan satu kali injeksi), C (pemberian ekstrak daun karamunting dengan dua kali injeksi) dan D (pemberian ekstrak daun karamunting dengan tiga kali injeksi). Dosis penyuntikan yang diberikan adalah 0.25 mg/g. Parameter pengamatan terdiri dari morfologi ovari, nilai GSI, nilai HIS, survival rate dan kualitas air. Hasil penelitian menunjukkan bahwa Perlakuan D memberikan hasil terbaik dengan nilai GSI sebesar 11,494%, HSI 3,450%, dan telah mencapai TKG IV. Pemberian ekstrak daun karamunting dengan frekuensi penyuntikan yang berbeda memberikan pengaruh yang berbeda nyata terhadap proses pematangan ovari induk kepiting bakau dibandingkan dengan perlakukan kontrol. Karamunting leaf extract has proven accelerating the process of ovary maturation of mangrove crab broodstocks. However, the use of karamunting leaf extract with the administration frequency of more than once has never been tested before. This research aimed to figure out the effect of different karamunting leaf extract frequency administration on ovarian maturation process of mangrove crab (Scylla serrates). This study used a completely randomized design with four treatments and three repetitions. The treatments included treatment A (control), treatment B (administering karamunting leaf extract with one injection), treatment C (administering karamunting leaf extract with two injections), and treatment D (administering karamunting leaf extract with three injections). The injection dosage given was 0.25 mg/g. The observation parameters consisted of ovarian morphology, GSI value, HIS value, survival rate and water quality. The research results showed that Treatment D gave the best results with the values of GSI and HSI respectively at I I .494% and 3.450% reaching TKG IV. The administration of karamunting leaf extract with different injection frequencies significantly affected the ovarian maturation process of mangrove crab broodstocks when compared to those in the control treatment.
ThesisOpen AccessPDF tersedia
2021•Skripsi, Thesis, Disertasi, dan Tugas Akhir
Kearifan lokal masyarakat pesisir pada umumnya memanfaatkan tumbuhan mangrove sebagai kayu bakar, arang, dan obat tradisional. Tumbuhan mangrove biasanya digunakan sebagai antimikrobial dan antioksidan karena adanya senyawa metabolit sekunder yang terkandung pada tumbuhan mangrove. Oleh karena itu, Diduga ekstrak tumbuhan mangrove dapat menghambat pertumbuhan R. Solanacearum penyebab penyakit layu tanaman, S. sobrinus dan memiliki aktivitas sebagai antioksidan. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui ekstrak tumbuhan mangrove yang digunakan memiliki potensi sebagai antibakterial dan antioksidan. Penelitian ini menggunakan metode difusi agar sumuran dengan konsentrasi 2000 ppm, 1000 ppm dan 500 ppm. Kontrol positif pada penelitian ini yaitu Chloramphenicol dengan konsentrasi 100 ppm dan kontrol negatifnya etanol 40%. Selain itu juga menggunakan metode DPPH penangkal radikal bebasnya pada uji antioksidan. Hasil yang diperoleh pada uji antibakteri pada tumbuhan mangrove didapatkan penghambatan tertinggi ditunjukkan oleh ekstrak etil asetat daun C. tagal dengan daya hambat terhadap S. sobrinus pada konsentrasi 2000 ppm yaitu 47% dan tidak memiliki daya hambat terhadap R. solanacearum. Hasil penelitian menunjukan aktivitas antioksidan tertinggi ditunjukkan pada ekstrak metanol daun C. tagal dengan konsentrasi 100 ppm yaitu 91,02%. The local wisdom of coastal communities generally uses mangrove plants as firewood,charcoal,and traditional medicine.Mangrove plants are usually used as antimicrobials and antioxidants because of the secondary metabolite compounds contained in them.Therefore, it is expected that mangrove plant extracts can inhibit the growth of R.solanacearum which causes plant wilt disease,S.sobrinus and has antioxidant activity. This study aimed to determine if the mangrove plant extract has potential as an antibacterial and antioxidant. This study used well method (gel diffusion) with a concentration of 2000 ppm,1000 ppm and 500 ppm.The positive control in this study was Chloramphenicol with a concentration of 100 ppm and the negative control was 40% ethanol. In addition, it also used the DPPH method to ward off free radicals in the antioxidant test. The results obtained in the antibacterial test on mangrove plants showed that the highest inhibition was indicated by the ethyl acetate extract of C. tagal leaves with inhibition against S. sobrimus at a concentration of 2000 ppm,which was 47% and had no inhibitory power against R. solanacearum.The results showed that the highest antioxidant activity was shown in the methanol extract of C. tagal leaves with a concentration of 100 ppm, namely 91.02%. Keywords: Antioxidant,Antibacterial,Mangrove Plant, R. solanacearum,S. Sobrinus
ArticleOpen Access1 berkas tersedia
2017•Artikel Penelitian dan Pengabdian
Abstract
Bacteria in mangrove ecosystem provides has role in litter decomposition that is essential to provide organic nutrition for organisms in mangrove forest. The research was aimed to identify decomposition bacteria that exist in KKMB Tarakan mangrove conservation area. The identification focused on litters from several mangrove vegetation, which are Bruguiera parviflora, Rhizopora apiculata, Sonneratia alba, dan Avicennia alba. The method used was explorative descriptive while testing parameter was genus. The research identified seven bacteria genus for litter from Bruguiera parviflora which are Bacillus, Aeromonas, Nocardiae, Corynebacterium, Listeria, Bacteriodes, Psedumonas. Six genus from Rhizopora apiculata which are Bacillus, Listeria, Enterobacteria, Aeromonas, Actinobacilus, and Bacteriodes. Five genus for Sonneratia alba which are Bacillus, Aeromonas, Listeria, Enterobacteria, Stapylococcus. And eight genus from Avicennia alba which are Bacillus, Clostridium, Enterobacteria, Bacteriodes, Plesiomonas, Bordella, Streptococcus, Neisseria. The results conclude that different species of mangrove vegetation attracts different species of bacteria as well.